Rabu, 04 April 2012

Ungker


Ungker
Hingga kini aku tak pernah paham terhadap diriku sendiri mengapa aku lebih tertarik pada binatang binatang kecil serangga atau sejenisnya. Jadi tatkala aku membicarakannyapun aku  tak merasa risih. Aku tertarik dengan ungker atau kepompong ulat daun jati. Apa istimewanya?

Toh, kepompong dimana mana sama bentuknya dan makanannya juga dedaunan tak jauh berbeda.Jangan salah menebak. Ungker ini dapat dikonsumsi oleh orang sebagai lauk saat bersantap.

Nama ungker mungkin belum familiar bagi warga dari luar Blora. Namun bagi sebagian masyarakat Blora, nama ungker sudah sangat akrab di telinga. Saking banyaknya warga yang suka, harga ungker pun melonjak tajam Rp. 50.000.- per kilogram atau bungkusan kecil Rp.10.000.-  Apalagi di saat musim penghujan seperti sekarang ini ungker masih sulit didapatkan.

Di awal musim penghujan di bulan November hingga Desember daun pohon jati akan mulai tumbuh setelah sebelumnya dimusim kemarau gugur daunnya. Disaat daun jati bersemi itulah ulat-ulat mulai merajalela memakan daun jati hingga tersisa rangka-rangka daunnya saja, sehingga pohon jati akan nampak gundul. Namun maraknya ulat yang menghabiskan daun pohon jati justru merupakan salah satu berkah dari penduduk karena ulat tersebut ketika menjadi kepompong atau disana disebut dengan enthung/ ungker biasa dijadikan makanan yang lezat. Kepompong yang berwarna coklat tua ini dan berukuran satu hingga dua sentimeter ini  lebih dahulu dicuci dan direbus hingga    matang. Setelah itu barulah ulat digoreng setelah diberi bumbu tumis dan dicampuri daun kedondong muda. Dibuat  oseng-oseng atau asem asem tak kalah lezatnya, karena kaya akan protein. Rasanya pun sangat gurih dan renyah, namun terkadang makanan ini terasa gatal di lidah jika dikonsumsi dalam jumlah yang berlebih, lagipula ketika mengunyah bagian kulitnya. Bagi yang belum pernah mencoba, makanan ini akan terasa sedikit aneh di lidah dan terlihat sedikit menjijikkan namun setelah mencoba dipastikan tak akan pernah melupakan rasanya.
Apalagi menurut survei ungker  mampu menyembuhkan alergi kulit, makin banyak orang memburunya. Yang pasti daging ulat banyak mengandung protein yang bermanfaat bagi tubuh.

Ungker tergolong hama, anehnya  banyak orang menantikan kemunculannya.  Bagi penggemarnya, ungker adalah makanan lezat, khas walau dipandang ekstrim oleh banyak orang, dan kini kian langka dan hanya ada di Kabupaten Blora terutama kawasan hutan Randublatung. Dimana letak kota Blora?  Blora, merupakan sebuah kota kabupaten yang terletak di daerah pantai utara Jawa dan merupakan daerah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kondisi daerah ini merupakan perbukitan kapur dan masih banyak terdapat hutan yang rimbun terutama pohon jati yang menjadi salah satu produk unggulan dari kota Blora. Pohon jati tumbuh subur hampir di setiap sudut kota Blora dan menyambung ke daerah-daerah di sekitarnya seperti Bojonegoro, Cepu, Rembang dan Tuban. Disinilah tempat orang memanen Ungker.

Mamaku pernah bercerita  sebuah  kisah tentang seorang penggemar Ungker. Pada suatu hari Minggu seorang pendeta  di Blora  menyantap Ungker, saking getolnya beliau makan agak kebanyakan. Tak menyadari apa akibatnya, beliau tenang tenang saja. Pada sore harinya beliau mendapat tugas mimbar alias berkhotbah bagi umat di sebuah Gereja disana. Namun  belum sampai ibadah selesai beliau mendadak sontak  jatuh rebah dari mimbar. Terjadilah kehebohan di gereja. Umat menjadi bengong ada apa gerangan  dengan Bapak Pendeta. Usut punya usut ternyata beliau kebablasan makan ungker, barangkali beliau diserang rasa gatal yang tak tertahankan. Akupun pernah mencicipinya dulu saat aku tinggal di Blora, ungker rasanya renyah, kulitnya kasap dan tubuh mungilnya mengeluarkan cairan berwarna putih saat dikunyah. Namun kini akupun menolak ketika ditawari akan dibawakan ungker dari sana, dengan alasan kuatir menjadi korban Ungker seperti Bapak Pendeta.

Biasanya  orang akan terbiasa makan makanan yang didapat di daerah mereka tinggal . Sementara orang lain menganggapnya tidak lazim, karena mereka tidak menemukannya didaerah  mereka . Segala ciptaan Tuhan baik adanya jika dimakan dengan proporsional akan mendatangkan manfaat ,namun jika melampaui ambang batas akan berakibat fatal bagi diri sendiri dan orang lain. Siapa mau coba?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar