Rabu, 04 April 2012

Obrolan Empat Negara

Kami, aku, suamiku, dan beberapa kenalan yang berasal dari, India, Singapura, dan Jepang, memutuskan pergi ke Jogja saat sepakat pergi liburan bersama. Mereka yang bekerja di kantor yang sama dengan suamiku di Surabaya datang menjemputku ke Semarang. Seorang wanita asli Indonesia yang juga masih kolega suamiku juga ikut serta bersama rombongan. Merapi dan Pangandaran yang menjadi tujuan utama kami.

Dalam perjalanan ke Pangandaran, kami terlibat obrolan mengenai banyak hal. Tidak ada topik khusus, namun terasa sekali seru dan hebohnya. Masing-masing orang saling seolah-olah berebut untuk berbicara semaunya. Lompat sana, lompat sini, namun justru semua itu menjadi pengobat bagi lelah kami yang sedang menempuh perjalanan jauh ini.

“You know? I am still nine months here but I have learnt Bahasa very well. While you have been here in Indonesia for nine years, but you still do not know Bahasa very well.” Ucap Mr. India, yang kini usianya telah genap empat puluh lima tahun, dan seorang konsultan ini. Yang dimaksud Bahasa adalah Bahasa Indonesia. Kami, yang lainnya, dengan rasa ingin tahu cuma menyimak apa yang dikatakannya.
“You want to prove?” Lanjutnya. Kami masih menyimak. “Okay, I test you right now.”

“All right!” sahut Mr. Jepang bersemangat. Seorang pria berusia enam puluh tahun yang bekerja di sebuah perusahaan multi nasional di Surabaya. Pria yang meskipun usianya sudah mencapai enam puluhan, tetap kuat diajak berjalan jauh. Tubuhnya pendek, namun dia memiliki pembawaan yang kalem. dan yang menyenangkan dari semua itu, dia sangat baik hatinya. Juga tidak pelit, karena sering mentraktir kami.

“Kita mau pergi kemana?” Tanya Mr. India dalam Bahasa Indonesia, namun dengan dialek khas dia. Cukup lama Mr. Jepang terdiam tidak menjawab, entah karena tidak bisa memahami pertanyaannya atau lupa nama daerah tujuan kami.

Mr. India yang memiliki kumis tebal, dan perawakan tinggi namun kocak dan smart ini terkekeh-kekeh menyaksikan kebungkaman Mr. Jepang. Ia tahu, Mr. Jepang sedang bingung untuk menjawab pertanyaannya.
“Pa–ngan–da–ran,” di luar dugaan, MR. Jepang menjawab dengan yakin, meskipun agak terbata-bata.

Gerrrrrrrr!!!!!!! Spontan kami semua tertawa lepas. Terbahak-bahak tanpa kendali. Mr. Jepang mengakui bahwa dia memang tidak serius belajar Bahasa Indonesia. Yang kudengar darinya adalah, kalimat, ‘kiri’ ‘kanan’,sepi

Hanya itu yang dia bisa.

Setelah sembilan tahun bekerja di Indonesia, hanya sedikit sekali kata-kata Bahasa Indonesia yang dia kuasai. Kalaupun berkomunikasi dengan orang lain dia menggunakan bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Merasa unggul Mr. India terus mengoceh, pamer. Bahasa Indonesia dia luar biasa meskipun baru sembilan bulan di Surabaya. Aku sendiri sering berdecak kagum.

Menilai dari pengamatanku, pada umumnya orang India memang “fast learner”, belajar cepat. Ia lebih terbuka, dan lebih peka. Berkemauan keras belajar bahasa lain. Sebaliknya ada sebagian orang-orang Jepang yang enggan belajar bahasa lain. Kalaupun mereka berbahasa Inggris, bahasa Inggrisnya pun terdengar aneh. Saat aku berbicara dengan Mr. Jepang dalam bahasa Inggris standar, dia malah kelabakan. Dan setelah aku mengikuti gaya Jepangnya dalam berbahasa Inggris, dia baru mengerti apa yang kubicarakan.

Sesaat obrolan terhenti. Sepi menelusup antara kami. Namun itu tidak berlangsung lama. Mr. India, kembali beraksi. Kali ini bukan hanya Mr. Jepang yang menjadi sasarannya. Tetapi Mr. Singapura juga mendapatkan jatahnya.
“Please listen to me!” katanya. “Chinese people are different from Japanese people. Do you know, why?”
Yang dimaksud olehnya adalah, Mr. Singapura mewakili orang Cina. Sedangkan Mr. Jepang mewakili orang Jepang. tanpa menunggu jawaban dari keduanya, Mr India melanjutkan, “Chinese people always DO DO DO then THINK.
But Japanese people always THINK THINK THINK then DO.”
“Ha…ha…ha…ha…” Tawa kami berderai. Sama-sama tahu, bahwa, Mr. India berkata begitu sama sekali tidak ada niat merendahkan atau melecehkan satu sama lainnya.

Diam-diam, pikiranku berjalan memaknai kata kata yang baru saja diucapkan Mr. India. Mencerna sambil terus menahan geli
“Amusing! Bener banget. Aku setuju jika orang Cina membuat barang-barang terlebih dahulu tanpa berpikir panjang. Buktinya barang-barang dari Cina tidak tahan lama. Murah dan cepat rusak.
Lain halnya dengan orang Jepang. Mereka, sebelum membuat atau memproduksi sebuah barang, mereka akan berpikir matang agar hasilnya maksimal. Alhasil, barang-barang Jepang tahan lama. Kuat, bagus qualified, atraktif desainnya walaupun harganya mahal.

Lalu, kita orang Indonesia, akan meneladani yang mana? Orang Cina atau orang Jepang? Terlepas benar tidaknya obrolan itu, obrolan seringkali tidak bermakna sama sekali. Aku tidak mengatakan orang Cina tidak mempunyai planning dalam bekerja. Atau orang Jepang lebih unggul dari orang Cina.

Dalam hati, aku salut terhadap Mr. India. Meskipun sekedar obrolan ringan yang spontan, namun tetap meninggalkan jejak makna yang mengena. Apakah memang begini jika mereka, terlibat obrolan?

Obrolan yang terkadang hanya ocehan ngalor-ngidul tanpa kejelasan itu terus berlanjut. Hingga akhirnya kami kelelahan. Dan mulai terlihat beberapa dari kami nampak tak dapat menahan kantuk lagi. Bahkan pada jam-jam tertentu hanya sopir mobil yang masih terjaga. Yang lain pulas mengejar mimpi masing-masing.
Kami menginap beberapa hari di Pangandaran. Dan berencana akan mampir di Baturaden sepulangnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar