Karena kendaraan yang bisa kukemudikan hanyalah mobil, tentunya aku paham akan resiko resiko yang lebih besar daripada kendaraan lain ,dan akan aku temui di jalan raya yang setiap saat aku lewati. Sewaktu waktu aku akan dikenai tilang, walaupun STNK, SIM A lengkap, kotak P3K ada, spion dan lampu lampu juga enggak pernah berpindah tempat. Tak dapat dielakkan jika tiba tiba polisi yang kadang tidak tahu dari mana arahnya sekejap muncul membunyikan peluit menghentikan mobilku tanpa aku perkirakan sebelumnya, dan bikin kaget , karena aku mungkin lengah dan melanggar lampu merah, salah parkir, atau melanggar rambu. Apes !
Pulang dari mengantar putriku menemui kliennya di Tlogosari sudah hampir jam 12 an, karena panas terik dan urusan sudah usai segera kami undur diri menghindar matahari, menyusuri Jl. Soekarno Hatta Semarang. Sangat kepedean dengan jalur keluar Jl.Tlogosari aku menjalankan mobil lurus setelah traffik, sadar kalau salah arah aku banting setir kekanan dan belok kekiri bablas ke Jl . Soekarno Hatta ke arah Jl. Citarum. Merasa aman aku melaju dengan kecepatan cukup tinggi, namun serta merta perasaan rada enggak enak, sambil sesekali menengok ke kaca belakang jangan jangan polisi yang berdiri dekat pos tadi mengejarku. Ohh……..benar dah ! Itu dia!
Melihat dia hatiku menciut, aduh tadi aku benar benar melanggar rambu. Bukannya aku mengurangi kecepatan tapi malah memacu gas mau mencoba kabur,kalau kalau aku berhasil. Namanya sepeda motor mau diapa apain juga lebih gesit, walaupun sudah tertinggal dibelakang. Nasib di siang bolong!
“ Selamat siang,Bu!”,sapanya.
“Selamat siang, Pak, balasku”
“Harusnya ibu tadi enggak boleh belok kekiri, kan ada tanda larangannya!”,lanjutnya.
“O ya?”, mengiyakan pura pura bodoh.” Wah, Pak tadi saya juga sudah ragu ragu, lagi pula saya kurang paham daerah sini”, aku membela diri.
“ Ya sudah sekarang ke pos saja”, tegasnya.
“ Ga ah, Pak kami buru buru , kataku menolak. Sudahlah ,Pak saya dibantu saja, saya mau ke tempat lain ga keburu nih, gimana Pak?”.
“ Jangan jangan !! Saya enggak enak ada yang lihat saya.”, katanya
“ Ayolah Pak, kataku lagi. Berapa Pak !”
“ Adanya berapalah”, jawabnya singkat.
Kembali ke mobil aku ambil uang yang kukira pantas.
“Ini Pak mumpung enggak ada yang lihat, enggak apa apa!”, kataku.
Menerima uang dariku dia segera melesat pergi, gantian dia yang ngebut ,hilang dari pandangan
Lega hatiku karena tidak jadi disandera dipos yang bakalan lama disana.
Polisi mau menerima suap karena ada yang memberi, dan aku telah memberi suap. Jika semua pengguna jalan mau agak ribet sedikit ,otomatis itu sebuah bentuk penolakan suap,kukira peraturan tilang menilang berjalan tertib. Cuma minta slip biru kalau terjadi kesalahan dan kita mau mengaku serta membayar denda yang tertera dislip jumlahnya,tranfer uang ke Bank, kembali ke tempat ditilang tadi serahkan tanda terima dan ambil STNK atau SIM yang ditahan. Kelar. Slip merah untuk yang melanggar lalin tapi mangkir sehingga harus melalui proses pengadilan.
Nah ,tinggal pilih bukan! Berdamai, slip biru atau slip merah. Selama orang melakukan kayak aku tadi ya polisi akan makan suap. Suap sudah meluap dan sudah membasahi berbagai lini yang lebih tinggi yang asal muasalnya dari yang kecil kecilan di jalan raya. Ternyata aku sudah terlibat suap sebuah wujud benih korupsi. Korupsi kewenangan aparat untuk menindak para pelanggar peraturan lalulintas, karena korupsi tidak selalu berupa materi.
Tadinya aku takut dikejar polisi karena dikejar suap tapi sekarang aku takut dikejar rasa bersalah. Aku akan memberantas suap mulai dari diriku sendiri.Semoga berhasil !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar