Jumat, 09 Maret 2012

Menarilah dan terus tertawa...................!

Laskar Pelangi
Menonton acara Komedi Indonesia di salah satu TV swasta merupakan kegemaranku ,karena joke yang dilontarkan mengocok perutku dan pastinya juga penonton lain. Diantara  3 finalis komedian pria  , kuakui dia pintar ngocol.  Dengan gaya kocak dan bahasa tubuhnya  ia berkata :
“Pengarang lagu lagu saat ini suka enggak perhatikan liriknya contohnya   dalam lagu “Laskar Pelangi “ tanpa bermaksud melecehkan dia berkata :
“………………….menarilah dan terus tertawa walau dunia tak seindah surga……………..”
 “ Masa kita disuruh menari dan terus tertawa padahal kita sudah tahu bahwa dunia tak seindah surga “
“ Hoa….hoa ha..ha…ha…..ha……”derai tawa penonton. Cuma banyolan. Deretan kalimat dalam lagu ini berkekuatan mempersuasi orang.Yaitu sebuah kekuatan energi positif yang bisa menyelamatkan “nyawa” orang lain yang sedang dalam kubangan keputusasaan, kepekatan pergumulan hidup, liatnya pergulatan hidup serta ketidakpastian peruntungan nasib.

Bukankah ujaran ujaran positif dapat membangun jiwa kerontang, menumbuhkan harapan,menyemaikan kasih, merekatkan persaudaraan, mengokohkan semangat dan memeteraikan cinta.

Berseberangan dengan itu, ujaran ujaran negatif  berkekuatan mencerai beraikan persahabatan,merantaskan ikatan perkawinan,membungkam opini, dan memandulkan kreatifitas,memenggal produktifitas dan memasung hak asasi.

Sebuah cerita dari Atlantik Utara mengisahkan  sebuah pohon yang sangat besar dan tinggi di sebuah desa yang akan ditebang Penduduk setempat hendak menebangnya, tetapi karena sangat besar sulit untuk dilaksanakan.
Mereka percaya  perkataan mempunyai energi positif maupun negatif. Tiba pada harinya mereka beramai ramai mendekati pohon itu. Kelompok pertama serombongan orang berada dibawah pohon, sedangkan kelompok yang lain berada diatas pohon meneriakinya selama berhari hari setiap hari : “Matilah kau!”, matilah kau!”, hingga pohon tersebut mulai layu, kering dan luruh daunnya, cabangnya rapuh dan batangnya mengisut. Dalam kondisi demikian pohon mudah ditebang.

Jika kata kata tersebut disampaikan kepada orang bisakah kita membayangkan apa yang akan terjadi? Mengerikan bukan?
Justru didunia yang tak seindah surgalah kita mesti berupaya  agar tetap “survive” di dunia yang  renta dalam menyikapi hidup yang pekat dengan kebohongan,kemunafikan serta keegoisan.

Jika ada yang kurang setuju dengan lirik aslinya apakah akan diganti :
“Menangislah dan terus sengsara walau dunia bukanlah  surga “
Percuma menangis menambah sengsara, dunia bukan surga, karena kita tidak bisa mengubah dunia, dan duniapun berubah sendiri,tapi kita  harus mengubah diri kita sendiri.
Oleh karena itu, “ Menarilah dan terus tertawa walau dunia tak seindah surga ! Bersyukurlah pada Yang Kuasa. Cinta kita di dunia. Selamanya. Selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar