Rabu, 04 April 2012

Christmas without a tree

 Geliat Natal mulai muncul, denyutnya mulai terasa,  pohon Natal sudah memperelok tatanan etalase toko, wajah  pasar swalayan, tampilan bank bank dan  dandanan rumah rumah pribadi. Aku belum merasa tergugah sampai saat seorang teman memasang foto pohon Natalnya di Facebook tanggal 8 Desember lalu, dan aku mengomentarinya :
“Nice, ga tahu punyaku uda ada dimana…………………..”
Menjawab komenku atas foto pohon Natalnya ia menulis :
“ Ms. Tinneke. Waduh, eman eman tuh !”, ia menyayangkannya.

Ya, eman eman. Saat itu pikiranku menerawang memikirkan  pohon Natalku  yang sudah tidak ada lagi padaku.
“Dimana pohon Natalku yang sudah sekian lama tak ada di rumahku ? Oh iya ….…aku teringat pohon itu sudah kuberikan kepada orang lain”.
Pohon Natal milikku setinggi 1,5 meter adalah pemberian adikku. Dari saat pemberian hingga  5 tahun yang lalu aku masih memasangnya karena masih ada anak anakku  yang membantu memasangkannya. Terbayang kembali indahnya  saat lampu lampu mungil mengerjap kerjap berganti  warna dalam sekejap, seperti mengedipkan mata  berarti ada kehidupan, ada cahaya walau kecil kecil.

Suatu pagi  jam 07.30 aku bertandang ke rumah seorang rekan dokter . Melihat  pohon Natal yang diletakkan  di depan bupetnya aku sangat impresif dengan tampilannya yang anggun dan elegan, ternyata  pohon Natalnya adalah pohon cemara tulen yang dihias pernak pernik cantik dan lampu lampu berpijar. Terang dan menyilaukan. Kutanyakan padanya apakah ia membelinya, dia mengatakan  tinggal  ambil di Wisma yaitu tempat peristirahatan miliknya yang terletak  di Bandungan, kabupaten Ambarawa.  Beribu cemara dapat dijumpai  tumbuh disana, karena hawanya dingin.
“Kalau ibu mau ambil saja disana tidak apa apa.  Potong pucuk cemaranya taruh di dalam pot besar diberi oasis dan air, bisa tahan sampai akhir tahun.”, katanya kepadaku.
 Cantik dan segar alami.
Ah……………..tapi ke Bandungan jauh sekitar 1 jam perjalanan dari Semarang kalau tidak macet, lagipula temanku juga tidak kesana lagi setelah sehari sebelumnya baru saja dari sana.
Aku sedikit kecewa.
Mulailah ketertarikannku pada pohon Natalnya, sehingga aku ambil gambarnya. Dalam hati aku rindu memasang pohon Natal lagi di rumah.

Siangnya aku harus pergi ke sebuah bank untuk menyetor uang , disebelah front  desk aku jumpai lagi pohon Natal tapi kali ini berwarna putih, berkerlap kerlip pijaran lampunya dipadu dengan hiasan warna warni. Kontras. Eksotis! Pasti mahal nih!, pikirku. Sambil duduk dikursi menunggu giliran pandanganku terpaku pada pohon Natal itu.
Diam diam terasa ada setitik air disudut mataku. Sedih, menyayangkan pohon Natal lamaku, yang aku tidak tahu bagaimana keadaannya. Apakah oleh pemiliknya terus dipasang setiap hari Natal? Atau sudah di upgrade dengan hiasan tambahan yang baru? Ataukah sudah berpindah tangan atau berpindah tempat alias dibuang?

Tiba tiba menyelinap  rasa trenyuh mengapa aku singkirkan pohon Natal lamaku tanpa menggantikan yang baru. Alasan utama saat aku memberikannya kepada orang lain yang kebetulan memintanya karena  pohon Natal itu cabang cabangnya telah banyak  yang rontok mungkin dimakan usia, sehingga tidak bisa ditegakkan lagi dengan sempurna padahal hiasan hiasannya  masih cukup banyak dan apik. Pendeknya sudah kurang sreg saja aku memasangnya. Saat aku bebenah rumah  aku hanya  ingin segera mengosongkan lemari karena pohon itu menyesakkan. Biar rapi dan bersih, karena waktu itu rumahku juga direnovasi jadi pengin ringkas.
Hingga teller menyebutkan nomor antrianku aku terkejut , bbrukkkk………………...tasku jatuh karena kaget buyar lamunanku tentang nasib pohon Natal lamaku.

Teringat pula seminggu yang lalu ketika aku ke rumah temanku yang lain, iseng iseng kutanyakan pohon Natal di rumahnya  ternyata  400 ribu harganya. Cuma  setinggi 80 cm sebegitu mahal. Jadi harga pohon Natal baru setinggi 1,5 meter bisa jadi sekitar 1 juta.  Makin merasa sayang dan benar benar “eman eman”. Makin kecewa.
Sedikit merenung aku sempat mengoreksi diriku sendiri. Nuraniku  berkata pada diriku begini …………………..
“Pohon Natal lama sudah tidak ada padamu, mengapa kamu masih begitu pilu memikirkannya, menyayangkannya, bahkan menyesalkan kepergiannya, padahal  kamu sudah tidak mau menampilkannya. Mengapa kamu begitu tidak rela setelah sekian lama pohon itu ada pada orang lain? Kau sayangkan pohon Natal lamamu seperti seseorang yang kehilangan mutiara padahal kamu masih saja menahan hatimu yang lama untukKU? Tidakkah kamu bersegera  mencampakkan hatimu yang lama ?
Hatiku mulai berkecamuk.

Seperti pohon Natal lamamu, kamu tiba tiba tidak rela melepaskannya demikian juga  kamu tidak rela melepaskan hatimu yang lama, hati yang mengeluh, hati yang memberontak, hati yang egois, hati yang selalu kuatir, hati yang acuh tak acuh, hati yang sombong,dan  hati yang keras.

Lepaskan pohon Natalmu yang lama, lepaskan juga hatimu yang lama. Bukankah kamu sudah tidak memerlukannya lagi?
Sebentar lagi kamu merayakan Natal , kelahiran Yesus  senantiasa membawa pembaharuan hidup, pembaharuan hati.
Jangan sedih lagi! Relakan pohon Natal lamamu pergi darimu. AKU akan menggantikannya dengan pohon hati yang baru yang lembut, rendah hati, penuh kasih, bersyukur dan bersukacita serta murah hati.

Menyadari hal ini aku buru buru menyeka  butiran air yang masih ada dimataku, kuatir ada yang  melihatku. Malu. Penghiburan Yesus sangat luar biasa, aku akan menyambut Natal  tahun ini tanpa ada pohon Natal lama, tidak pula yang baru yang ada adalah hati yang sama sekali baru, karena Yesus yang lahir mengusung pembaharuan dalam hatiku dan dalam hati semua orang. Yesus lahir bagiku  dan bagi semua orang.
Selamat Natal kawan!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar