Written by : Tinneke Indrawati S.
Selesai tugasku mengajar petang tadi aku buru buru akan melakukan “foot reflexion” di sebuah supermarket tempat aku biasa belanja. Kulihat sudah jam 18.00, sebelum berangkat aku telpon dulu reflexion center agar aku dapat dilayani tepat waktu tanpa menunggu lama, namun telpon tidak diangkat hanya suara beep…………………………beep…………….Ah..mungkin mereka masih melayani pelanggan. Kuletakkan gagang telpon dan aku mandi. Setelah mandi kuulang lagi menelpon dan aku dapat terhubung dengan salah satu terapis dan ia memberitahukan bahwa aku dapat segera berkunjung. Aku berjanji 15 menit lagi aku sampai, karena lokasinya tidak jauh dari tempat tinggalku.
Tak menunggu lama lagi aku berangkat sendiri mengendarai mobil, sementara hujan turun rintik rintik namun tetap membasahi jalan, sehingga becek. Takut kemalaman aku mempercepat laju mobil. Setibanya didepan supermarket aku memarkir mobil diluar tidak didalam, karena area sempit susah keluar masuk lorong dipadati mobil pengunjung.
Aku turun dari mobil dan memastikan dengan tukang parkir aku parkir ditempat yang benar karena berdekatan dengan tanda larangan “Dilarang Parkir !” tanda P di coret aku kuatir ditilang. Tukang parkir mengatakan aman. Kesalahan kecil bisa menjadi runyam.
Berlari kecil menghindar rintikan hujan aku menuju reflexion center yang berlokasi didalam , jadi aku harus masuk area supermarket. Tapi………………………..begitu aku melewati alat sensor yang dipasang didepan pintu masuk. Bunyi beep……………………berlangsung terus. Aku terperanjat rasanya aku tidak membawa barang logam terlarang, lagi pula aku dari luar akan masuk ke dalam. Segera satpam yang bertugas menghampiriku dan mencoba menanyai aku ada apa di handbag yang kubawa. Kukatakan aku tidak membawa benda aneh. Merasa tidak bisa mengatasi masalah kecil ini, ia memanggil kawannya disudut lain untuk membantu. Ialah yang minta ijin untuk mengeledah tasku, dengan rela kuberikan padanya karena aku tidak mau dituduh apa apa. Untung disitu tak ada barang “ haram”. Memegang dompet HP ia mengetes tapi tidak ada bunyi yang keluar.
Akhirnya ia menemukan buku novel “ Masihkah kumencintaimu ?” karya Aprilina dkk yang akhir akhir ini kubaca dan belum selesai. Kupikir sambil reflexi nanti bisa kutuntaskan membaca dalam waktu 1 jam daripada nganggur.
Tanpa ijin aku lagi ia mengangkat buku itu mendekatkan pada alat sensor dan keluarlah bunyi………..beep……….beep………..Oh ,ini yang bikin aku panik tapi merasa tidak berdosa. Aku tak sadar bahwa buku yang aku pinjam dari perpustakaan daerah ada “bar code “nya. "Chip" dalam" bar code" tersebut sensitif dengan alat sensor itu.
Dengan sopan dan tersenyum satpam mengembalikan tasku dan mempersilakan aku masuk. Lega aku rasanya, namun aku sempat sangat malu menjadi perhatian pengunjung dan salesgirl yang bertugas.
Sepulangnya reflexi aku jadi ragu akan lewat pintu depan lagi, terlintas ide untuk lewat pintu samping agar aku tak malu dua kali. Barangkali tak ada sensor. Duh…….ternyata pintu samping juga ada sensornya. Bagaimana ya…………..? Sudahlah aku nekat saja, aku melihat sambil mencari cari satpam yang tadi, kukira dia tidak akan menggeledah tasku lagi. Eh……dia ada didepan pintu samping segera saja aku ngeloyor keluar tetap dengan rasa was was dan sekali lagi sensor berbunyi beep……………beep………………dan satpam yang tadi cuma senyum senyum . Barangkali ia membatin ibu ini lagi…..Ah , biar aja.
Berlaku bijaksana dalam segala hal apalagi yang menyangkut orang lain tapi jika sesuatu harus terjadi tenang saja asalkan kita tidak menyalahi aturan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar