Written by : Tinneke Indrawati S.
Maraknya kasus bunuh diri di akhir minggu ke 4 bulan Pebruari 2012 menyentakkan detak kesadaran kita yang mendengarkan beritanya. Lima nyawa melayang dengan berbagai alasan. Ekonomi, keluarga ,pekerjaan dan pergaulan. Apa apa dengan masyarakat kita? Sakitkah? Suatu hal yang ironis dan mengundang tanda tanya besar. Disatu sisi banyak orang berjuang mati matian untuk bertahan hidup, mereka takut mati dilain pihak ada orang orang yang sudah tak kuat menyangga beban hidup yang luar biasa beratnya . Takut hidup memilih mati.
Terekam dalam ingatanku penggalan peristiwa yang menimpa seorang kenalanku, seorang wanita paruh baya berusia 45 tahunan, berkulit bersih berwajah lumayan cantik. Ia mempunyai seorang keponakan perempuan berusia 24 tahun. Kami beribadah di gereja yang sama. Mereka tinggal persis di depan gereja.
Aku kurang bergaul akrab dengan ibu ini, malah lebih dekat dengan keponakannya. Dalam suatu kesempatan bertemu denganku gadis ini acap bercerita tentang bibinya yang berperilaku aneh setelah di PHK dari pekerjaannya sebagai penjahit. Ia sering melamun, menyendiri dan gelisah tidak menentu, dan tidak melakukan aktifitas apa apa di rumah.
Dalam suatu ibadah Minggu ibu ini datang terlambat dan langsung menempati tempat duduk tepat didepanku. Belum sampai 10 menit ia sudah pindah duduk disebelahku. Aku terpaksa memperhatikan gerak geriknya ,karena mengundang perhatianku. Sangat tidak tenang sebentar sebentar memegang buku nyanyian dan meletakkan kembali menata posisi duduknya. Tak dinyana ia bertanya padaku :
“Jika aku mati apakah aku masuk surga?”
“Iya Bu kalau kita percaya pada Tuhan”, sahutku pelan kuatir mengganggu umat lain yang beribadah. Kuperhatikan dia terus pandangannya kosong menerawang jauh entah kemana. Raut wajahnya menyeramkan tak menampakkan aura kecantikkannya lagi membuatku merasa gelisah juga.
Usai ibadah ia menghampiri pemimpin ibadah tak puas dengan jawabanku ia bertanya : “ Pak ,apakah Tuhan itu ada?”
Ya Bu ,Tuhan ada, jawab Pendeta. Dan pemimpin ibadah menjelaskan lagi panjang lebar dan mendoakannya. Namun ia masih nampak ragu. Para umat meninggalkan gedung gereja ia juga akhirnya keluar dan aku mengantarnya hingga pintu depan. Lenyap dari pandanganku.
Pada hari Rabu sore 3 hari setelah perjumpaan kami di gereja, aku dan teman teman diberitahu bahwa ia masuk RS pemerintah. Segera kami kesana . Setibanya di RS gadis keponakannya menyambut kami dengan tangisan mengatakan bahwa bibinya mencoba menghabisi nyawanya sendiri dengan menenggak racun serangga. Ia tak pernah berprasangka buruk saat diketahui bibinya pergi membeli cairan itu pada petang itu. Dikira memang untuk persediaan di rumah,karena kebetulan sedang habis. Tanpa curiga apa apa. Sang keponakan tidak menanyai lebih lanjut saat bibinya pulang dari toko.
Rupanya ibu ini sengaja menanti kelengahan keponakan. Dengan tenang ia menuangkan cairan itu perlahan dalam sebuah gelas dan meminumnya dengan santai. Belum habis satu liter ia telah terjatuh dan terkapar di lantai. Dalam kepanikan keponakan itu dibantu tetangga membawanya ke RS itu.
Diruang gawat darurat ibu ini terbujur tubuh kaku dan biru, wajahnya bengkak. Sementara nafasnya sepenggal.Dibawah tempat tidur terdapat kantong kantong berisi cairan racun serangga yang dikuras dari tubuhnya. Dan bau racun yang menyenyat menguar memenuhi udara, sehingga aku memilih keluar ruangan. Isak tangis anggota keluarga mengisi ruang perawatan terutama gadis keponakan yang menangis histeris menyalahkan dirinya sendiri menjadi biang masalah dan merasa bertanggung jawab menjaga bibinya apalagi selama ini hubungan mereka sudah seperti ibu dan anak karena keponakan ini sudah sejak kecil diasuhnya.
Kami menunggu lama ber jam jam tanpa dapat berbuat banyak selain berdoa. “Ya Tuhan kalau boleh mohon selamatkan dia “. Akhirnya……………….. Satu jiwa lagi melayang menambah daftar korban bunuh diri di bumi ini. “Nasi sudah menjadi bubur” tak ada kekuatan apapun yang dapat menghalangi sengatan maut. Kami pulang dari RS dengan hati teriris habis.
Pelajaran yang amat mahal bagi orang orang terdekat dan kita semua bahwa kunci dari sebuah hubungan apapun adalah komunikasi. Jika saja komunikasi antar insan dibingkai dalam kasih dan terwujud dengan manis dan langgeng maka segala macam kesesakan dapat disalurkan pada wadah yang benar agar kasus kasus senada tidak terulang lagi. Menjadi cerita sepanjang masa tak ada habisnya. Cintailah hidup dan hiduplah dengan cinta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar