Kepergianku ke Jakarta kali ini adalah untuk menjemput adik isteriku dari Jepang, setelah satu tahun dia belajar disana mendapatkan beasiswa studi. Dengan menumpang travel 4848 L 300 yang dulu cukup bonafide dari Semarang tujuan Jakarta aku hendak menginap di rumah saudara teman mertuaku . Satu minggu ( H - 7) menjelang Lebaran arus mudik sudah mulai memadati jalan raya dan mulai terasa kepadatannya, mobil travel melawan arus karena aku dari Semarang. Jalur Pantura dapat dipastikan sangat ramai pada saat itu.Seperti biasa jika bepergian aku selalu saja “book” tempat duduk no 3 bahkan hingga sekarang . Dijemput di rumah aku sudah siap, sudah ada beberapa penumpang didalam mobil saat aku memasukinya. Seorang wanita paruh baya berusia sekitar 50 tahun sudah duduk di kursi no 3. Mengetahui ini aku bertanya padanya ………….
“ Ibu kursinya nomor berapa?, kataku membuka percakapan. Kursi yang saya pesan no 3”.
“ Betul ini no 3, tapi saya suka disini karena jika saya tidak duduk ditepi saya akan mabuk”, jawabnya. Walaupun “grundel” dalam hati , aku merasa lebih muda patut mengalah, sehingga aku pindah kekursi no 4 disebelahnya. Tak ada ruginya menolong orang lain, kataku dalam hati.
Dalam perjalanan, kami saling kenal mengenal dengan sebagian penumpang. Yang duduk kursi no 5 adalah seorang cewe muda, enerjik dan cantik lulusan UNDIP sudah bekerja di sebuah kantor cabang BI di Jakarta, sudah menikah. Sedangkan penumpang di kursi no 7 adalah juga seorang cewe yang masih sangat muda sekitar 20 tahunan usianya yang bepergian dengan adiknya cowo usia 18 tahunan menempati kursi no 8.
Berbicara dengan cewe di kursi no 7 tadi, ia menceritakan bahwa dirinya habis menjalani operasi hidung yang dulunya “mbetet” maksudnya seperti paruh burung betet bentuknya.
Menelusuri jalan meninggalkan Cirebon, hujan tumpah dari langit, deras banget.Kendaraan melaju amat kencang tanpa mengurangi kecepatan, kebut kebutan dan saling mendahului dengan bis bis exekutif yang pada jam jam itu merajai jalanan. Sialnya sopir tidak mau mengalah.Sementara mobil melewati Krawang hujan tidak berkurang derasnya sehingga jarak pandang sangat pendek. Buram.
Mendadak mobil saat itu menyalib sebuah bis tapi terlalu kekanan, dan tiba tiba “ njegluk” terperosok dalam lobang, terpental dengan posisi mobil terbalik. Badan mobil terpelanting beradu dengan aspal menggesek aspal sehingga mobil “swing” mengeluarlkan bunyi sreeeeeeeettttt……………….sreeeeettttttttttttttttttt……sreeettttt…..srettttt memekakkan telinga terpelanting dari tempat kejeblos kira- kira sejauh 20 meter sampai akhirnya kecebur parit besar berair cukup dalam ditepi jalan dengan posisi roda diatas. Air mulai masuk perlahan kedalam mobil sementara mesin masih menyala. Lampu lampu mobil mati, dan tak ada penerangan jalan. Gulita, dalam pekatnya subuh. Ajaibnya aku tidak merasa grogi, panik atau gemetaran sehingga aku dapat menyelamatkan penumpang yang lain tanpa mempedulikan diriku sendiri. Dengan sisa tenaga yang ada karena kelelahan yang menumpuk aku berteriak ………………………
“ Mana sopir ?, Mana sopir ?”, kataku berulang ulang emosional, karena sopir tidak mendengar teriakanku.
Sopir yang terluka itu menjawab .”Saya Pak!, Saya Pak!.”
“Matikan mesin! Matikan mesin!’ , kataku memerintah karena tidak tahu siapa yang kuperintah. Pikirku siapa saja yang mampu untuk itu. Aku juga tidak dapat melihat siapa siapa. Mesin akhirnya berhasil dimatikan. Karena medan menyulitkan semua orang hanya mengandalkan suara saja.
“ Buka pintu!, kataku dengan nada tinggi. Pintu depan kanan berhasil dibuka, tapi dengan sangat susah payah karena posisi mobil terbalik dalam kubangan penuh air , kalut,gelap, semrawut. Satu hal yang ada dalam pikiran semua penumpang adalah selamat.Kuperkirakan jika aku dapat mendengar, keadaan sangat panik, kalut, dan bingung, tapi ternyata telingaku ditulikan sementara karena hiruk pikuk orang orang tak bisa kudengar sama sekali.
Akhirnya dengan keadaan minim kesadaran karena masih subuh dan terbangun mendadak antara sadar dan tidak, para penumpang dapat keluar satu persatu.Mayoritas penumpang mengalami luka ringan sampai serius.
Wanita di kursi no 3 tangan kirinya patah. Ia berteriak kesakitan . Melihat air mukanya ia menahan rasa sakit , beruntung ada yang membantu mencarikan tali rafia dan potongan kayu untuk membebat tangannya, baru ia bisa diangkat keluar dari mobil.
Sempat aku mendengar cewe yang di tempat duduk no 7 berkata……………………….
“Aduh, hidungku hancur “, serunya. Adik laki laki perempuan ini pada waktu kejadian sedang tidur terlelap dengan wajahnya menempel pada kaca jendela sebelah kanan mobil sebagai sandaran maka tak ayal lagi jika wajahnya terluka serius terkena pecahan kaca. Sebagian penumpang dilarikan ke RS terdekat untuk mendapatkan perawatan seperlunya. Waktu itu jam menunjukkan pukul 1.30 atau 02.00 dini hari.
Ketika hari sudah mulai terang jam 04.00, kami duduk duduk dipinggir jalan, menunggu kendaraan pengganti untuk meneruskan perjalanan.
Merenungi atas apa yang barusan terjadi aku………………termangu mangu seperti tidak percaya bahwa aku selamat.
Merasa beruntung sekali karena mobil “swing” tidak mengenai pohon yang jaraknya hanya 1 meter dari tempat mobil kecebur. Seandainya mobil menabrak pohon, bisa meledak karena mesinnya diesel. Tapi sudahlah khayalanku mengambang kemana mana….dengan seandainya……seandainya…..Yang penting aku terhindar dari celaka.
Atas inisiatif beberapa penumpang kami menyewa mobil yang menjadi tanggungan kantor travel 4848 untuk melaporkan kejadian ke kantor 4848 di Jakarta sebelum menuju ke alamat masing masing. Tak ada orang orang yang berkerumun menyaksikan atau menolong, karena masih sangat pagi. Mobil travel yang sama saja tidak mau berhenti untuk menolong apalagi mobil mobil lainnya.
Sampai di alamat yang kutuju tempat aku menginap sudah jam 11 siang. Aku kaget dengan sapaan tuan rumah .
“ Mengapa bajumu berlumpur?”, tanya tuan rumah. Melihat bajuku sendiri aku sadar aku telah kehilangan sandalku sebelah.
“Aku mengalami kecelakaan dekat Krawang , Tante ”, jelasku.
Setelah dipersilahkan masuk ke kamar yang sudah disiapkan untukku, aku mengeluarkan pakaian pakaian yang kubawa. Secara refleks Alkitab yang kubawa terbuka pada halaman yang berisi ayat ayat intinya ………
“ Karena Daud dikuasai Tuhan, Roh Tuhan menguasai tubuh Daud, tubuhnya digeser sehingga lepas dari tancapan tombak Saul.
Setelah membaca ayat ayat ini. Aku seperti kembali pulih kesadaran dan ingatanku atas apa yang telah terjadi subuh itu.
Rupanya ini adalah jawaban Tuhan atas permohonanku. Detik detik kejadiannya berlaku sangat cepat.
Setelah melewati Cirebon dalam guyuran hujan deras itu , aku merasa ada orang yang membangunkanku dari tidur pulasku ,sehingga pada suatu saat aku merasa kepalaku berputar putar berkali kali mungkin karena mobil dalam posisi terguling dan terguncang amat keras beradu aspal.
Rupanya Roh Tuhan pimpin aku waktu itu dan aku spontan berseru Tu…….tu….tu …han ! To…to…to…long aku!”, aku tergagap gagap mengucapkannya tapi rasanya jiwaku diselimuti kekuatan supranatural sehingga merasa nyaman sekali , anugerah turun atasku. Dalam sekian detik aku merasakan kakiku menginjak injak tubuh orang yang tak lain adalah tubuh penumpang, aspal jalan dan puing puing pecahan kaca yang berserakan dimana mana.
Kini aku di kamar itu, hanya ucapan syukur yang berlompatan keluar dari bibirku, bahkan ketika aku menelpon isteriku aku tidak dapat bercerita banyak hanya mengabarkan aku mengalami kecelakaan dan selamat, karena aku shock berat. Dengan maksud menolong orang lain berpindah tempat aku selamat, tanpa luka sedikitpun. Puji Tuhan !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar