Rabu, 04 April 2012

Kue Nostalgendu

Semalam anak kosku mengangsurkan sekantong plastik kue gendu rasa durian kepada kami, aku dan anak kos lainnya.Tapi entah kenapa cuma aku dan sipemberi yang suka. Yang lain menolak mungkin karena kue ini ternyata berisi selai durian, anak lain mengira isinya selai nanas, sehingga mereka mengurungkan niat untuk mencicipinya.

Kue Gendu,  aku tidak tahu asal muasalnya tapi yang jelas sipembawa adalah orang asli Blora. Dan akupun meyakininya sebagai makanan khas Blora, karena waktu aku masih kecil dan tinggal di Blora, aku kerap membantu mamaku membuat kue ini pesanan orang pada hari Natal dan Idul fitri atau sebagai suguhan atau teman minum teh, yah cemilan begitulah.
Aku sendiri sangat menikmati kesempatan waktu itu untuk ikut membuatnya. Mama   akan tahu hasil buatanku karena bentuknya  cenderung kurus dan kecil “ulat “nya. He…he….he….

Yang unik dari kue ini adalah namanya “Gendu” yang mungkin berasal  dari kata “Gendon “ yang berarti bernga besar  ( ulat putih dirotan).  Yang kedua adalah bentuknya memang seperti ulat yang kegendutan alias obesitas lengkap dengan mulut dan matanya, “ cute” sekali. Dan yang terakhir adalah cara membuat guratan guratan pada tubuh “ ulat” ini adalah dengan meletakkan secuil adonan pada sebuah sisir besar kemudian   ditekan tekan sehingga membekaskan alur alur yang rata, lalu  diisikan bulatan selai durian atau nenas dan ditutup lagi dengan sedikit adonan dan dirapikan bentuknya menyerupai ulat itu. Untuk mulut diberikan bulatan kecil adonan merah di ujungnya dan 2 titik hitam sebagai matanya.

Kue ini telah bertahan bertahun tahun dan dibuat orang dikota kecil ini, dan sudah terkenal sebagai salah satu makanan khas, atau oleh oleh.

Walaupun kini telah banyak ragam kue kering yang dijajakan dipasaran dengan aneka rasa, bentuk dan penampilan ,topping,  filling dan pernak pernik nan cantik, namun kue yang satu ini tak kalah pamornya karena cenderung memiliki penggemar sendiri. Lagipula kue ini sudah mempunyai ‘trade merk” kue tempo dulu yang banyak menyimpan kenangan. Juga kenanganku akan kota Blora dan masa kecilku yang mendapat bilik khusus.

Sudah amat lama aku meninggalkan kota Blora dan mama juga sudah hijrah ke Jakarta. Namun aku masih bisa menikmati kue unik ini. Karena keunikannya itulah yang membuatku jatuh hati dan ingin selalu menikmatinya, untunglah anak anak kosku bermurah hati membawakan kue Gendu ini sekedar pengobat rasa rindu akan kampung halaman mama.

Kue Gendu
Yang baru mengenal kue ini pada awalnya merasa jijik dengan bentuknya yang sangat mirip ulat yang gendut apalagi kalau membayangkan jika ada ulat beneran yang segede itu. Ah….ga sajalah! Terlepas dari reaksi  orang lain, kue Gendu adalah kue favoritku.

Karena kue tradisional Blora dengan resep kuno  ini diwariskan dari generasi ke generasi sejogyanya ada yang mempromosikannya agar tetap ada pembeli dan penikmat kue ini, dengan demikian kekhasannya dalam kesederhanaan bahan kelegitan rasa dan lucunya penampilan tetap membuatnya  eksis menjadi salah satu warisan nenek moyang kita. Selama ada yang penikmat  maka pastinya akan ada yang membuat dan menjual, sehingga kue yang tak lekang oleh waktu ini akan tetap lestari sebagai cemilan abadi khas Blora.

1 komentar:

  1. skrng ada yang jual toples an di kaliwangan _ Blora,,,, eemmhh yummy....always love ..genduuu

    BalasHapus