Rabu, 04 April 2012

Sembilan ratus ribu, tiga ratus ribu dan mobil

Suatu malam putriku menelpon dan memberitahuku bahwa ia mengalami kecelakaan kecil didapur. Penasaran aku mendengarkannya dengan seksama.
Waktu ia hendak menggoreng sepotong paha ayam berbumbu pemberian neneknya  buat makan malam sesuatu telah terjadi. Selepas menaruh penggorengan “non stick” diatas kompor ia menuang sedikit minyak dan menyalakan apinya. Setelah dirasa cukup panasnya ia hendak meletakkan paha ayam tersebut ke dalam penggorengan. Namun………….splash ! Minyak seketika tumpah. Untuk menghindarkan penggorengan jatuh ke lantai dengan sigap ia memegang tangkai penggorengan tapi sayang kalah cepat minyak sudah terlebih dulu menyambar tangan kirinya………..Bayangkan betapa sakitnya ketumpahan minyak panas…

Mendengar tuturannya aku serasa merasakan panasnya luka ditangannya. Dia bercerita bahwa ia sudah mengunjungi seorang dokter spesialis kulit di RS  Pertamina. Diperiksa, diberi obat dan salep serta perban. Dan……..biayanya adalah Rp. 900.000,- sekian sekian.
Mendengar jumlah itu aku terperanjat. Hah ………………..! Apa…………..! Sembilan ratus ribu,kataku mengulang. Itu teriakan karena keterkejutanku. Ya sudah dibayar saja , mau apa lagi.

Setelah itu aku baru menanyakan keadaan tangannya. Tangannya melepuh cukup dalam dan obat yang diberikan tentunya akan menyembuhkan luka bakar itu, pikirku memastikan diri.

Di lain peristiwa, putraku meminjam mobil pada pagi hari setelah mobil dicuci,dan  waktu itu ia belum mahir mengemudi. Sopir ditinggal di rumah, katanya sebentar mau jalan jalan. Belum lama berselang aku tiba tiba ditelpon diberitahu kalau ia mengalami musibah. Hadew…………….ada ada saja. Ia ceritakan kronologi kisahnya, saat ia  menghindari sebuah mobil Karimun di tikungan kanan jalan yang tiba tiba keluar dari mulut gang, ia membanting setir kesebelah kiri  tanpa sadar  disebelah kiri menganga sebuah selokan besar, tak ayal lagi mobil nyungsep kedalam parit yang berair  itu dan mengenai gardannya sehingga tidak bisa mundur atau maju karena tersangkut  rerumputan yang cukup tinggi dan tebal.

Kalimat pertama yang aku tanyakan adalah : “ Bagaimana keadaan mobil?. Ternyata mobil dalam posisi menukik tajam kearah bawah parit. Telah diupayakan untuk menggunakan peralatan apa saja untuk mendongkraknya, tapi sia sia, dibutuhkan kekuatan ekstra. Perlu waktu 2 jam untuk mengeluarkannya dari posisi itu. Sebanyak 20 orang tukang becak dikerahkan tenaganya dengan bayaran Rp. 300.000.-  Untunglah putraku selamat.

Mobil Kijang
Dua  peristiwa diatas menyadarkanku bahwa pandanganku  hanya tertuju pada hal hal kebendaan  dari pada hal yang terpenting. Justru hal yang penting malah dinomor duakan. Perihal tangan melepuh dan keselamatan anak lebih berharga daripada uang Rp.900.000 dan Rp.300.000 serta mobilnya.

Belajar fokus pada hal hal  yang lebih bernilai di mata kita, sesama dan Tuhan, karena hal yang demikian lebih dihargai dan diperkenan oleh Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar