Masih dalam balutan kekhawatiran, keraguan dan ketidakberdayaan serta kebuntuan pikiran, kami memberanikan diri meluncurkan barisan kata kata kesyukuran, kerendah hatian dan kepasrahan dalam keheningan.
Namun sekelebat di pelupuk mataku ada penglihatan singkat tapi samar “sebutir biji sesawi yang dihimpit batu”
“ Ah…….apa pula ini ? Aku tak hiraukannya. Terus saja aku melanjutkan doa. Setelah usai aku ceritakan kepada putriku apa yang kulihat barusan.
Yang kutangkap adalah sebuah perumpamaan sebutir biji sesawi. Ya…biji sesawi. Lalu ……? Hubungannya apa dengan yang dialami putriku?
Dia memang sedang dalam pergumulan untuk dapat memajukan usaha mandiri yang kini sedang dirintisnya bersama seorang teman wanita .Ditengah pergumulan itu dia masih ingin memantapkan langkah langkah apa yang harus digalang.
Kami sudah sering mendengar soal biji sesawi dalam perumpamaan Alkitab. Namun mengapa Tuhan menghadirkan biji itu pada kami? Dari sumber informasi yang kami temukan biji sesawi adalah benih terkecil dari semua benih sayuran. Sesawi merupakan tanaman tahunan yang dapat berkembang luar biasa dan cepat. Tanaman ini hidup di Israel dan dapat mencapai tinggi hingga 4-5 meter di tanah yang baik, normalnya sekitar 1,2 meter.
Tapi mengapa pula ada sebuah batu yang menindih biji sesawi itu?
Biji sesawi bisa berkualitas atau tidak, jika biji itu berkualitas tentu biji itu punya “power” untuk tumbuh dan berkembang walau terhalang oleh apapun.Butir sesawi yang berkualitas itu bertenaga untuk keluar dari himpitan batu sehingga ia mampu menumbuhkan tunas tunas baru yang kelak merupakan bagian dari sebuah pohon yang berkembang besar,gagah dan kuat serta menghasilkan. Lebih lebih dengan bantuan siraman matahari dan guyuran hujan . Sebaliknya yang tidak berkualitas akan begitu saja mengkerut dan mengering dan akhirnya mati karena tidak tahan panasnya matahari , dinginnya air hujan atau kuatnya angin. Biji sesawi juga memerlukan tindakan pemeliharaan tidak serta merta tumbuh begitu saja namun mengalami proses yang panjang untuk menjadi besar dengan kesabaran dan ketelatenan.
Bila Tuhan sudah menanam benih iman yang berkualitas, tidaklah pantas bila kami mengkhawatirkan akan apa yang terjadi di masa depan kami. Dengan kekuatan benih yang Tuhan sudah simpan dalam hidup kami masing masing, kami akan dimampukan olehNya untuk menyeruak dari himpitan batu masalah,deraan pergumulan, dan derasnya tekanan dosa. Dengan kuasa yang telah kami peroleh dariNya perlahan tapi pasti kami akan menjadi pohon yang semula adalah sebuah biji kecil sekali, namun berpotensi menjadi pohon kecil yang sehat dan akhirnya menjadi sebuah pohon iman yang perkasa dan tahan banting. Demikian juga iman harus dijaga, dipraktekkan karena iman tanpa tindakan pada hakekatnya adalah hampa.
Ya……Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini :
“Terbantunlah( tercabutlah) engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu “(Lukas 17:6)

Walau iman kami hanya sebesar biji sesawi, itu sudah merupakan tahap awal untuk melakukan perkara perkara besar, melewati masa masa sulit.
Tanpa ada biji berkualitas maka tidak akan ada pohon, tanpa iman yang teguh maka tidak akan ada hasil. Tanpa perbuatan iman nyata juga tak akan ada hasilnya.
Ah ,iya ya…….mengapa kami kuatir akan masa depan? Kami menjadi malu sendiri. Terima kasih Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar