![]() |
| Mi dan teh buatan Winnie |
Tugas saya sehari hari mengajar Bahasa Inggris di rumah .Sabtu pagi yang cerah itu saya mengajar “speaking” , kelas percakapan untuk dua orang murid saya ,Wawan berusia 12 tahun dan Winnie 10 tahun. Topiknya ““How to cook noodle” dan : “How to serve tea”. Mereka sendiri yang menentukannya.
Saya tidak merasa repot menyediakan semua keperluan karena ini pekerjaan saya. Tapi Winnie menyanggupi membawa mi instan, sebutir telur, 2 sachet teh celup dan sejumput gula pasir.
Wah….antusias sekali, mereka sibuk layaknya juru masak.
Saya membantu menyediakan panci, penggorengan, sotil, mangkuk,sendok, sedikit minyak dan garam.
“Ready, Miss”, kata mereka berbarengan.
Jadilah dapur saya tempat kegiatan memasak.
Kuatir mereka belum biasa dengan kompor saya menyalakannya, dan mereka mulai beraksi menyiapkan semua untuk mereka masing masing.
Selesai memasak untuk dirinya Winnie bertanya :
“ Have you had your breakfast?”
“Not yet !”
“Okay I’ll cook for you, Miss”
“No, not necessary”.Saya menolak, saya ingin melakukannya sendiri.
Namun ia bersikukuh memasak untuk saya.
“ So sweet, pikir saya sambil tersenyum dan menahan perasaan kagum.
“With fried egg ?”, tanyanya lagi.
“Yes”, jawab saya pendek.
Dengan sigap Winnie mulai mendidihkan air lagi, menaruh sawi hijau yang sudah dicuci lalu mi kedalamnya , menuangkan bumbu dalam mangkok dan mi yang sudah direbus bersama sayur tadi. Lalu ia menuangkan sedikit minyak ke dalam penggorengan, memecah telur dengan ragu ragu kuatir akan muncrat keluar dan mematangkan telur yang sudah diberi garam hingga agak kering setelah tahu kesukaan saya.
Yah……akhirnya siap sudah minya. Aroma sedap mi yang baru matang menguar mengundang selera .Ia mengangkat dua mangkuk mi satu kepunyaannya dan satu lagi kepunyaan saya. Juga 2 cangkir teh manis hangat
Wawan telah lebih dulu selesai dan siap menunggu di ruang kelas untuk “ breakfast” bareng. Maklum ia anak laki laki beda dengan Winnie anak perempuan yang sangat menikmati kegiatan ini.
Winnie mohon padaku untuk mengucap doa dalam bahasa Inggris.
“Dear Lord, thank you for the time, the food and the drink……………………….”, ucapku.
Perasaan bahagia menyusup dalam hatiku mengalirkan keindahan pagi dengan sarapan ini.
Dengan berbinar mereka menyuapkan mi kedalam mulut, sambil menjelaskan pada saya langkah langkah menyiapkan mi dan menyeduh teh dalam bahasa Inggris.
Presentasi berakhir dan mereka melanjutkan makan sisa makanan di mangkuk. Wawan selesai lebih dulu,sedangkan Winnie masih mengunyah mi dengan tidak bersuara karena mulutnya penuh.
Menyaksikan pemandangan ini saya geli karena pada awalnya ia memutuskan memasak 2 bungkus mi padahal saya sudah memperkirakan mi sebanyak itu tak akan habis oleh gadis kecil itu.
Dengan usahanya Winnie menghabiskan mi namun sudah mengendur semangatnya tidak seperti semula.
‘Miss, I am so full”, but I must be responsible’, tegasnya.
Satu jam terasa begitu cepat kami melewatkan waktu bersama dengan sukacita.
Winnie masih sangat belia namun hatinya begitu luas peka akan kebutuhan saya , tidak lupa bersyukur dan bertanggung jawab atas keputusannya ,sehingga ia harus makan minya sampai habis,walaupun saya tahu ia kekenyangan.
‘I am proud of you, little girl.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar