Rabu, 04 April 2012

Winnie The Cook

Mi dan teh buatan Winnie

 Tugas saya sehari hari mengajar Bahasa Inggris di rumah .Sabtu pagi yang cerah itu saya mengajar “speaking” , kelas percakapan untuk dua orang murid  saya ,Wawan berusia 12 tahun dan Winnie 10 tahun. Topiknya ““How to cook noodle” dan : “How to serve tea”. Mereka sendiri yang menentukannya.

Saya tidak merasa repot menyediakan semua keperluan  karena ini  pekerjaan saya. Tapi Winnie menyanggupi membawa mi instan, sebutir telur, 2 sachet teh celup dan sejumput gula pasir.
Wah….antusias sekali, mereka sibuk layaknya juru masak.
Saya membantu menyediakan panci, penggorengan, sotil, mangkuk,sendok, sedikit minyak dan garam.
“Ready, Miss”, kata mereka berbarengan.
Jadilah dapur saya tempat kegiatan memasak.
Kuatir mereka belum biasa dengan kompor saya menyalakannya, dan mereka mulai beraksi menyiapkan  semua untuk mereka masing masing.
Selesai memasak untuk dirinya Winnie bertanya :
“ Have you had your breakfast?”
“Not yet !”
“Okay I’ll cook for you, Miss”
“No, not necessary”.Saya  menolak, saya ingin melakukannya sendiri.
Namun ia bersikukuh memasak untuk saya.
“ So sweet, pikir saya sambil tersenyum dan menahan perasaan kagum.
“With fried egg ?”, tanyanya lagi.
“Yes”, jawab saya pendek.
Dengan sigap Winnie mulai mendidihkan air lagi, menaruh sawi hijau yang sudah dicuci  lalu mi kedalamnya , menuangkan bumbu dalam mangkok dan mi yang sudah direbus bersama sayur  tadi. Lalu ia menuangkan sedikit minyak  ke dalam penggorengan, memecah telur dengan ragu ragu kuatir  akan muncrat keluar dan mematangkan telur yang sudah diberi garam hingga agak kering setelah tahu  kesukaan saya.

Yah……akhirnya siap sudah minya. Aroma sedap mi yang baru matang menguar mengundang selera .Ia mengangkat dua mangkuk mi satu kepunyaannya  dan satu lagi kepunyaan saya. Juga  2 cangkir teh manis hangat
 Wawan telah lebih dulu selesai dan siap  menunggu di ruang kelas untuk “ breakfast” bareng. Maklum  ia anak laki laki beda dengan Winnie anak perempuan yang sangat menikmati  kegiatan ini.

Winnie mohon padaku untuk mengucap doa dalam  bahasa Inggris.
“Dear Lord, thank you for the time, the food and the drink……………………….”, ucapku.
Perasaan bahagia menyusup dalam hatiku mengalirkan keindahan  pagi dengan sarapan ini.
Dengan berbinar  mereka menyuapkan mi kedalam mulut, sambil menjelaskan pada saya langkah langkah menyiapkan mi dan menyeduh teh  dalam bahasa Inggris.

Presentasi berakhir dan mereka melanjutkan  makan sisa makanan di mangkuk. Wawan selesai lebih dulu,sedangkan Winnie masih mengunyah mi dengan tidak bersuara karena mulutnya penuh.

Menyaksikan pemandangan ini saya geli karena pada awalnya ia memutuskan memasak 2 bungkus mi padahal saya sudah memperkirakan mi sebanyak itu tak akan habis oleh gadis kecil itu.
Dengan usahanya Winnie menghabiskan mi namun sudah mengendur semangatnya tidak  seperti semula.
‘Miss, I am so full”, but I must be responsible’, tegasnya.

Satu  jam terasa begitu cepat  kami melewatkan waktu bersama dengan  sukacita.
Winnie masih sangat belia  namun hatinya begitu luas  peka akan kebutuhan saya , tidak lupa bersyukur dan bertanggung jawab atas keputusannya ,sehingga ia harus makan minya sampai  habis,walaupun saya tahu ia kekenyangan.
‘I am proud of you, little girl.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar