
Pencuri ? Hmm……Mendengar kata ini pikiran kita akan digiring pada suatu konotasi negatif yang hampir semua orang tak mau berurusan dengannya. Tindakan mengambil barang milik orang lain dapat dikategorikan sebagai tindakan mencuri siapapun orangnya dewasa,remaja, anak anak kaya atau miskin. Dan apa saja bisa menjadi sasaran pencurian, apalagi barang barang berharga tidak perlu diragukan lagi.
Namun apa yang terjadi padaku adalah sebuah ironi.
Tetangga sebelahku adalah sebuah keluarga suami, isteri dan 2 putrinya yang berusia 10 tahun dan 8 tahun dan sebut saja keluarga Iwan. Pak Iwan kolega suamiku dan Bu Iwan adalah ibu rumah tangga biasa yang sehari hari berkegiatan di rumah.
Kami tinggal di mess perusahaan, rumah kami tidak berpagar depan , tidak berpembatas di bagian belakang kecuali bagian samping rumah berkawat tinggi mengitari kompleks, sehingga tetangga dapat berlalu lalang mengunjungi tetangga lain dengan mudah.
Seperti tetangga lainnya, keluarga ini berperilaku sopan , berwibawa, saling menghargai dan menghormati Tak pernah ada kabar miring tentang mereka di kantor maupun lingkungan.
Mengamati dari dekat keluarga ini acap membuatku geleng geleng kepala, pasalnya suatu ketrika mereka meninggalkan pembantunya ,seorang gadis remaja 17 tahun di rumah dengan pintu terkunci dari luar tanpa diberi makan. Akibatnya ia memanggil manggilku dari dalam rumah mengeluhkan perilaku majikannya. Karena tak tega aku mengulurkan sepiring nasi dan lauk kepadanya melalui jendela yang kebetulan muat untuk dilalui sebuah piring. Astaga ! Pada jaman ini masih saja ada orang yang memperlakukan sesama seperti ini.
Mereka juga getol menyetel tape keras keras, sehingga membisingkan telinga kami. Kami kalang kabut dibuatnya. Tidak cukup itu saja, mereka kedapatan mencantolkan satu tas plastik sampah ke spion mobil kami pada suatu pagi. Apa salah kami? Masalah sampah aku masih bisa menahan diri.
Di lain kesempatan kuperhatikan setiap kali pembantunya menjemur pakaian pakaian yang dicucinya majikannya selalu minta kepadanya menghitung jumlah pakaian yang dijemur. Ck…Ck..Ck….
Hal hal diatas itu urusan pribadinya ,namun aku merasa tambah gerah dengan kejanggalan kejanggalan yang dibuatnya, karena aku mulai kehilangan barang barangku berupa handuk, pakaian dalam bahkan rak sepatu yang kujemur dibelakang rumah.
Pertanyaan bergelantungan dalam benak ,siapa pencurinya ? Aku menepis sangkaan bahwa pembantuku yang jahil sengaja menginginkannya. Ya sudahlah! Tapi tidak mungkin, aku tahu ia baik.Lagi lagi pemulung menjadi tersangka utama,namun mana mungkin mereka bisa masuk pagar kawat samping rumah. Kuikhlaskan daripada dipusingkan hal remeh seperti seorang detektif yang melacak pencurian.
Namun suatu siang pembantuku melambaikan tangan memanggilku dengan menaruh ujung telunjuknya dibibirnya tanda agar aku tidak bersuara. Segera aku menghampirinya. Dia minta aku melongokkan kepala ke pintu belakang rumah tetanggaku itu sambil menunjuk handukku yang raib ternyata bertengger di kawat jemuran di dalam rumahnya. Oh…….jadi ini toh yang mengutil ? Benar ! Handuk oranye punyaku. Rasanya mustahil kami mempunyai handuk yang sama coraknya.Aku i tidak tahu siapa sebenarnya yang mengambil? Bapak,Ibu atau anak anaknya?Aku sendiri masih tidak mempercayai bukti itu namun aku juga gregetan.
Apa daya aku tidak mungkin mencuri milikku sendiri, karena yang terjadi adalah pencuri mencuri curian dirumah pencuri. Sudah…..sudah……!!! “ Berapa sih harga sebuah handuk? Lagipula handuk itu hadiah dari temanku. “Terus berarti……..pakaian dalam dan rak sepatuku pasti dari keluarga ini juga dong yang mengambil”, kataku pada pembantuku.
“ Iya pasti bu siapa lagi”,sahut pembantuku.
Eh….belum sempat menyimpan rahasia ini ternyata tetangga sebelahnya lagi Ibu Ida mengeluh padaku ia barusan kehilangan beberapa potong pakaian dalamnya. Oh my God!. Terpaksa aku bongkar rahasiaku sendiri karena aku pikir sudah kelewatan dan menyampaikan Ibu Ida bahwa aku mengalami hal yang lebih parah darinya. Cuma kami berdua yang membincangkannya tanpa ada niat menggosipkannya diantara teman teman kantor apalagi melapor polisi.
Aku lebih memilih diam, karena keadaan Ibu Iwan sudah membuatnya terhukum apakah aku akan menghukumnya lagi dua kali ?
Kleptomania? 1) Istilah ini yang terbenam dalam pikiranku saat itu. Suatu gangguan psychis yang disebabkan pengalaman masa kecil yang mendalam yang membuat kebiasaan itu berkembang dan bukan karena khayalan atau halusinasi, sehingga pengidap kleptomania bisa didiagnosa dan diobservasi dari perilakunya ketika melihat barang yang dimiliki orang lain, tidak untuk memenuhi kebutuhannya namun sebagai koleksi atau dihadiahkan kepada orang lain. Mereka melakukan hal ini, karena ada dorongan dari otaknya sebagai tantangan untuk membuktikan bahwa dia bisa melakukan itu tanpa diketahui pemiliknya.
Pengidap kleptomania adalah orang yang tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak mengambil milik orang. Tidak ada batasan umur, jabatan, strata ekonomi atau gender. Bisa terjadi dimana saja dan kapan saja.
Maka dari itu, kita bisa membedakan antara pencuri biasa dan pengidap kleptomania.
Beberapa faktor penyebab selain genetik, adalah pengalaman masa muda yang kurang perhatian dan
banyak menghadapi masalah yang disebut ADHD (Attention Deficit Hyperactief Disorder)
atau sebaliknya ADD (Attention Deficit Disorder).1)
Kita kadang bingung bagaimana cara mengadili orang yang mengidap gangguan ini.
Karena tanpa disadari oleh pelakunya sendiri ia merugikan orang lain, karena itu dibutuhkan psikolog, psikiater atau kriminolog. Bahaya dari kleptomania adalah adanya sebagian dari mereka yang berkembang menjadi pencuri betulan dan mempunyai sasaran pilihan barang tertentu.
Cukuplah berhati hati dan waspada terhadap gerak gerik orang dekat kita yang barangkali adalah pengidap Kleptomania.Tidak menutup kemungkinan mereka adalah anggota keluarga sendiri. Alangkah baiknya jika kita menyarankan pengidap untuk dikonsultasikan kepada ahlinya sehingga menghindarkan hal hal riskan yang dapat memalukan keluarga.bahkan membahayakan dirinya.
1) internet.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar