Rabu, 07 Maret 2012

Lukisan Naga Biru

Lukisan Naga Biru
Sore itu  aku bertamu ke salah seorang mantan muridku. Disambut kedua orang tuanya, aku dan suamiku dipersilahkan masuk ruang tamu sebuah rumah gedung cukup luas. Mereka tinggal tidak jauh dari kediamanku. Mereka mempunyai dua orang putri kakak beradik Meili dan Meime.
Sepi, tenang…………………..
“Terima kasih,”  ucapku lirih setelah dipersilakan duduk. Agak terkejut  karena kedatangan kami mereka diam menungguku membuka pembicaraan untuk menyatakan tujuan kami bertandang, karena  mereka tidak tahu mengapa kami datang, hingga kami menceritakannya.
“ Begini Bu, kataku memulai, menahan rasa sedih tapi mencoba tetap bicara. Bingung aku mengatakannya ,karena  masih tersisa suasana berduka diantara mereka, sejak putri  keduanya berpulang  kepada Tuhan. Akhirnya aku buka suara , kepada mama Meime aku berkata :
“ Waktu terakhir sebelum Meime  les Inggris  dia bermain di dalam rumah, Bu. Lalu dia melihat sebuah lukisan karya adik suami  saya yang kami beli darinya.
 Karena adik suamiku membutuhkan uang pada saat itu untuk sangu ke Jakarta ia menjual lukisan itu pada kami.
“Bu Tinneke  lukisannya bagus banget !”, kata Meime.
“ Oh ya?, itu punya adik Om”, kataku menanggapinya. Om adalah suamiku. Mendadak sontak Meime berseru ………………………
“Bu, gendong aku dong!” , sambil lompat sana sini dalam ruang tamuku.
“ Ah ga mau, kamu kan berat”. Dia murid SD kelas 5, gemuk, bundar, usil tapi smart.
“ Soalnya ntar ga ketemu aku lagi loh”, ia meneruskan kalimatnya.
Aku terkejut, tapi tidak menanyakan lebih lanjut apa maksudnya.
Selesailah perbincangan kami, dan saya lanjutkan pelajaran bahasa Inggris.
Begitu, Bu ceritanya. Dan kedatangan kami ini ingin menyerahkan lukisan yang Meime sukai kepada     Bapak dan Ibu sebagai kenang kenangan Meime dari kami.
“Oh, begitu?”’ jawab mama Meime.
“ Iya,Bu “, kataku menegaskan sambil mengangkat lukisan yang kami bawa dan menyerahkannya kepada
papa dan mama Meime.
Nampak dari raut muka mereka rasa haru, tapi tidak terucapkan selain kata terima kasih. Meime meninggal karena tertabrak  mobil di jalan raya tidak jauh dari rumahnya saat  ia pada suatu sore  bersepeda.
Berusaha merasakan apa yang mereka rasakan kami tidak banyak bicara.
Penyerahan lukisan kepada keluarga Meime adalah sebagai bentuk tebusan rasa bersalahku saat ia minta aku menggendongnya. Memang aku menolaknya  saat itu, karena aku benar benar  tidak akan kuat mengendong dia yang beratnya 60 kg ,sedangkan aku 50 kg.
Semua telah berlalu menyisakan rasa kehilangan yang dalam dihatiku, karena ia sangat dekat denganku dan kepergiannya sangat mendadak 7 hari setelah perjumpaannya denganku di rumahku. Aku bertanya tanya sendiri ,apakah seseorang yang akan pergi meninggalkan orang orang yang dicintai di bumi ini berpamitan dengan cara cara semacam ini?
Aku tak bisa menjawab dan tidak bertanya juga kepada orang tua Meime apakah mereka juga dipamiti Meime.Namun satu hal yang telah kulakukan dan tidak akan kusesalkan adalah selama dia belajar denganku aku telah melakukan tugasku sebagai gurunya, terbukti dia sangat maju pelajarannya dan aku sudah tunjukkan kepada orang tuanya bahwa Meime adalah seorang anak yang baik, ceria,pandai dan patut dikasihi oleh siapa saja, dan yang paling utama dia sangat dikasihi oleh Tuhan yang telah memberikan kebahagiaan surgawi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar