Rabu, 04 April 2012

Pohon Pahit berbuah manis

Bermula dari rasa iri.
Tak pernah terlintas dalam benakku bermimpi untuk memiliki  atau membeli sebuah rumah di Serpong Tangerang. Jika aku memohon pada Tuhanpun adalah tindakan nekat ,namun sempat terbersit dalam hati rasa iri hatiku kepada kakak ipar yang tinggal di Semarang yang telah terlebih dulu membeli sebuah rumah di Jakarta Barat untuk putrinya yang kuliah disana. Aku sempat membayangkan betapa enaknya punya rumah disana secara pribadi,jadi tak usah mengganggu adikku  kalau kami datang ke Jakarta karena anak anak kami bekerja dan kuliah disana,walaupun adikku tidak keberatan.Aku tepis keirihatianku, aku tahu itu tidak baik sadar akan impianku yang melangit. Tapi masa aku enggak boleh punya impian? Ah,sudahlah…………! Dalam waktu berjalan aku sudah tidak pernah menangankannya apalagi menginginkannya. Dan hal ini tidak pernah ku utarakan pada suami,baru setelah mujizat terjadi  kuceritakan padanya apa yang pernah terbersit dalam benakku. Rupanya Tuhan menjawab apa yang ada dalam hatiku yang aku sebut sebagai “iri hati”.

Kontrak sambung menyambung.
Mamaku tinggal di sebuah rumah kontrakan seluas 310 m2 yang dikontrak  oleh adikku dari seorang pengusaha bulan Maret 2001 selama 3 tahun. Setelah berjalan , adikku memperpanjang lagi 2 tahun sebelum habis masa kontrakan.Begitu seterusnya bila hampir habis,kontrakan  disambung lagi,tapi kali ini pemilik mohon agar rumah itu dibeli saja agar tidak repot. Karena tidak ada niatan membelinya, maka rumah disambung lagi kontrakannya  dengan memohon agar dikabulkan permohonan kami. Atas kebaikan hati pemilik kami diberi kesempatan lagi 1 tahun kontrak. Di lain kesempatan dengan permohonan khusus mamaku mohon sekali lagi dengan menulis surat kepada pemilik dan mengantarnya  kerumah pemilik  bersama adikku, intinya agar kami  bisa memperpanjang  lagi  kontrakan setelah yang 1 tahun itu hampir habis.Pemilik merasa iba  dengan isi surat mama yang  begitu bagus bahasanya yang berujung pemilik  meluluskan permohonan itu, jadilah diperpanjang 2 tahun lagi dengan pembayaran tiap tahun.Jadi tahapan  kontrak 3 tahun, 2 tahun, 1 tahun, 2 tahun dan terakhir  1 tahun.

Mencari pembeli
Setelah hampir habis masa  kontrakan pada bulan Mei 2009, kami didesak lagi dan lagi untuk membeli,namun kami minta  perpanjangan lagi 1 tahun, dikabulkan lagi. Tapi setelah ini tidak mungkin kami akan merengek dan merengek, kami malu. Kami mulai bingung dan berusaha mencari pembeli yang mau dan mampu membeli rumah tersebut dengan asumsi kami dapat mengontrak rumah itu lagi tapi dari pemilik baru.Namun kami tidak mau mengiklankan rumah itu,kalau bisa famili saja yang membeli agar kami bisa mengontrak darinya dengan pertimbangan lebih enak.Jika diiklankan atau diberitahukan kepada banyak orang,pasti banyak yang mau apalagi harganya terbilang murah,tapi belum tentu kita boleh mengontraknya. Mama suka tinggal dirumah itu, sebab beliau tidak mau repot pindah ke kontrakan lain,karena barang barang dapur dan alat masak memasaknya  sangat banyak,dan beliau cukup lanjut usianya 78 tahun.
Akhirnya mama menghubungi keponakannya yang juga tinggal di Jakarta yang dipandang cukup mampu membeli rumah tersebut.Namun setelah melalui pembicaraan serius yang cukup lama, beliau menyanggupinya. Kami merasa lega, tapi entah mengapa tiba tiba beliau sendiri yang membatalkannya dengan alasan tertentu, meninggalkan kekecewaan.

Mencari petunjuk Tuhan
Kembali kebingungan, mamaku menelpon suamiku :”Tolong doakan kontrakan hampir habis,keponakan mama tak jadi beli rumah ini” kata mamaku. Kami terus minta Tuhan tunjukkan jalan,kami tidak minta agar kami dapat membeli rumah itu, karena kami tahu kami tak mampu, kami cuma mohon petunjuk Tuhan mengatasi masalah ini.
Pada kesempatan menelpon, mamaku akhirnya memberanikan diri bicara,walaupun dalam hati aku tahu mama sulit untuk “nembung”  suamiku. Beliau mohon bagaimana kalau aku dan suami yang membeli rumah itu ,kami mengatakan bahwa kami tidak ada uang sebesar itu.Kami menolaknya.Namun kami juga tidak melipat tangan ,tapi memeras otak mencari alternatif jalan keluar.
Kembali kami dan mama serta adik berdoa minta Tuhan berikan jalan yang terbaik, karena kami tahu hanya Tuhan satu satunya jawaban. Waktu terus berjalan sementara waktu kontrakan akan habis kurang 8 bulan membuat mama dan kami semakin kuatir dan deg deg an, sementara tidak ada tanda tanda Tuhan menolong. Duh……… Bagaimana ya!. Sempat kami ikutan cemas, tapi berusaha tenang dan berserah, karena dalam ketenangan terletak kekuatan. Dengan menggenggam kekuatan itu, kami yakin Tuhan akan memberi yang terbaik. DIA akan memberikan apa yang tak pernah kita pikirkan.Ini yang mengokohkan kami, sehingga kami dapat menenangkan mama. Kembali mama bicara dengan kami, coba bantu pikirkan lagi kalau kalian dapat membelinya, kata mamaku.

Menjual sebuah rumah kami
Memang kami mempunyai rumah kecil yang sudah kami miliki sebagai simpanan,tapi kami tidak pernah berpikir akan menukarnya dengan rumah kontrakan itu. Sepakat dengan suami akhirnya kami putuskan menjualnya.Tapi kepada siapa? Menjual rumah dalam waktu singkat tidak mudah.
Singkat cerita, kami menawarkan kepada salah satu kakak  kami sendiri tapi dia tidak membutuhkan dan tidak ada dana ,karena itu kami menghubungi kakak kami yang lain dengan sedikit nego  dia setuju membeli rumah kami dengan tidak terlalu rumit urusannya,bahkan hingga sekarang belum ada transaksi jual beli.
Dengan jumlah uang yang kurang lebih sama kami menyiapkan pembelian rumah yang kontrakannya kurang 6 bulan,karena 2 bulan waktu habis untuk cari pembeli.Puji Tuhan!

Harga “Salah”
Dengan harga yang sudah disepakati,kami bayar rumah tersebut. Kami sempat mendengar rumah itu murah harganya, tapi kami tidak tahu yang sebenarnya karena kami hanya diberitahu tanpa survey sendiri, sampai  bulan September 2009 ketika suami saya melakukan transaksi dia baru tahu bahwa harga yang diberikan adalah “Salah”. Koq bisa?
Pemilik rumah adalah seorang laki laki yang lanjut usia. Beliau sangat  kaya mempunyai rumah dimana mana sampai lupa rumah mana yang kami kontrak, namun demikian ia sangat baik, murah hati  kukatakan demikian ,walaupun aku sendiri tidak mengenalnya dan tidak berjumpa karena suami dan adikku yang menemuinya saat transaksi. Menurut suamiku ,waktu terjadi transaksi putra dari laki laki itu ikut hadir di depan Notaris di Bekasi. Dia bertanya pada sekretarisnya sebelum mulai transaksi :
“Apa benar harganya segitu?”, tandasnya pada sekretarisnya.
“Bapak yang menetapkan harga itu,” jawabnya. Yang disebut Bapak adalah pemilik rumah ayah dari laki laki muda putranya.
“Oh, seharusnya harganya dua kali lipat sesuai pasaran.” celetuk lelaki muda itu keheranan dengan jawaban sang sekretaris.
Mendengar percakapan itu suamiku dan adikku diam saja pura pura tidak tahu menahu  namun dalam hati bersorak kegirangan seperti menang undian.Dan adikku memberi isyarat suamiku agar bersegera beranjak karena urusan sudah tuntas.
Ia tidak bisa mengelak,karena harga rumah itu adalah harga kesepakatan ayahnya 2 tahun sebelumnya.Kami baru “ngeh” bahwa harga itu adalah “harga salah” saya katakan. Luar biasa! Tuhan telah melakukan rencanaNya dalam hidup keluarga kami. Ia sangat peduli.Ia mendengarkan sekaligus menjawab doa doa kami, menjawab kebutuhan kami.Tidak hanya tepat waktu tapi tepat harga.Takjub!Dahsyat!.

Pohon pahit berbuah manis.
Transaksi dilanjutkan,suamiku dan pemilik rumah tanda tangan. Usai sudah transaksi jual beli di depan notaris.Selesai pula pergumulan yang menelan air mata. Pohon perjuangan kami  berdaun  keprihatinan, bercabang kekhawatiran dan berbatang  ketidakpastian, namun karena dipupuk dalam  kesabaran,kepasrahan, ketekunan dan kesetiaan dalam ribuan kalimat doa dan segudang upaya maka buahnya adalah derasnya sukacita, syukur dan kedamaian.
 Sembilan tahun hidup dalam sangkar orang lain telah berakhir. Plong ! Derai ucapan syukur tumpah oleh  kasihNya karena  kami telah menyukakan hati mama yang dalam usianya yang senja mendapatkan kesempatan menghirup udara ketenangan,sukacita dan sejahtera.Dalam hal ini kami juga berterima kasih pada  mama yang kukuh pada keyakinan bila satu pintu tertutup maka pasti ada pintu lain yang terbuka .Halleluya!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar