Jumat, 09 Maret 2012

Setetes Embun menjelang malam

Kisah Nyata
embun pagi
Aku mengenal seorang janda tetangga seorang janda berusia 72 tahun pertama kali adalah karena aku berlangganan koran pada agennya. Pekerjaannya sehari hari adalah  membantu suaminya yang seorang agen koran dan majalah di kota kami.Aku berlangganan koran lokal dan sewaktu waktu aku membeli majalah darinya. Banyak aneka majalah yang dapat  kubeli sesuai dengan kebutuhan,majalah wanita,anak anak,remaja,politik,ekonomi,komputer dan tabloid mingguan.

Kami  sering terlibat perbincangan umum seputar lingkungan,pekerjaan dan rumah tangga hingga masalah rambut.Dia sempat mengagumi rambutku juga.  Beliau senang mengajakku  ngobrol kesana kemari, aku juga senang diajak ngobrol sampai sampai sering kebablasan sudah harus pulang untuk  mengajar.

Sejak aku tidak berlangganan koran,aku  malah jarang kontak apalagi  bersua,hanya sewaktu waktu bila aku membutuhkan majalah atau koran aku menelponnya.

Setelah sekian lama aku menghilang suatu saat dia kuhubungi lagi lewat telpon berkenaan dengan kepentingan menitipkan brosur bisnisku  yang dimasukkan kedalam  lembaran koran atau majalah sebagai sisipan yang diantar ke pelanggan ,dia mengeluh mengidap penyakit stroke akut. Aku sempat terperanjat mendengar kabar itu karena selama ini dia baik baik saja.

”Saya sudah tidak seperti dulu,saya sudah sakit sakitan”,keluhnya dengan nada suara melemah.
 Mendengar hal ini aku  iba.Aku sempat membayangkan siapa yang urus dia dengan baik,karena kedua anak laki lakinya  sibuk dengan urusan mereka, sehingga tidak bisa diandalkan perhatian ke ibunya.
Dia minta agar aku mampir kerumahnya. Mulailah aku rutin menyempatkan diri bertandang kesana. Tak jarang aku membawakannya lemper, kue lapis  atau sayur lodeh kesukaannya atau apa saja  sekedar menyenangkan dia. Namun selalu saja setelahnya dia pasti suruhan anaknya mengirimkan sesuatu ke rumahku sebagai balasan.

Dalam suatu kunjungan kami  berbincang banyak hal, dia lemah tak bersemangat, nampak menderita sekali. Sambil bercerita selalu ia mengucapkan sesal ,mengapa anaknya 2 orang laki laki semua.

“Enak ya  bisa punya anak perempuan”,katanya tiba tiba.
”Oh, ya enggaklah Tante,sama aja,semua punya peran sendiri sendiri.Semua punya bagiannya sendiri Tante.Jangan berkata begitu,mengucap syukur atas apa yang Tuhan telah berikan”,lanjutku.
“Tante lihat kamu selalu gembira,sehat dan bersemangat,katanya lagi ”.
”Oh ya?,Tante juga bisa,kalau Tante mau,cobalah menerima apa yang ada”,sahutku menghiburnya

Saat aku dirumahnya selalu ditahan untuk lebih lama bersama dengannya. Aku bisa mengerti namun aku selalu mencari alasan untuk dapat meninggalkannya lebih cepat, karena aku merasa cukup waktu aku mendampinginya kira kira 1 jam. Dengan janji akan datang lagi lain waktu, dia ikhlas melepasku pergi.

Kunjungan demi kunjungan kulakukan dengan rutin.Dan aku menyaksikan secercah kebahagiaan dari raut wajahnya,  terlihat dari sunggingan senyumnya berkali kali matanya berpendar saat berbincang ,seolah muatan hidupnya teringankan sejenak. Aku tak tahu pasti apa yang dia pendam.Yah mungkin .beban penyakit, beban finansial karena penyakitnya yang memaksanya merogoh kocek yang tak terhingga , beban anak pertamanya yang terganggu mentalnya dan beban tidak punya anak perempuan. Dia sangat menderita dengan stroke yang sudah bertahun tahun dia idap,karena  itu dia tidak dapat melangkahkan kaki ,hanya duduk  manis dan menggerakkan tangan kanannya saja untuk meraih gagang telpon. Praktis hidupnya hanya seputar rumah,gereja,dokter,rumah sakit dan tidak bisa beraktifitas lain  kalaupun ia harus berpindah tempat ia  harus dipapah atau dibopong. Hal ini sudah cukup membuatnya merepotkan orang lain,lebih lebih ditambah penyesalan  terhadap anak anaknya yang dianggap kurang mengasihinya rasanya berat sekali. Serangan stroke berkali kali yang membuatnya harus mondok di rumah sakit  tentunya menguras biaya yang tidak sedikit,sementara mata pencahariannya  hanyalah  agen koran yang tidak terlalu besar. Usaha  dikelola anaknya yang kedua,sedangkan anaknya yang pertama  tidak bekerja karena kondisi mentalnya.
.Dia juga menganggap familinya tidak cukup peduli terhadapnya,walaupun menurut ceritanya ada juga yang menyokong pengobatannya.Sungguh kasihan!

Hatiku berbunga setiap pulang dari rumahnya ,karena aku dapat membahagiakannya walaupun tidak sepenuhnya.

Terakhir dalam  kunjunganku kerumahnya dengan seorang hamba Tuhan, keadaannya tambah parah, baru pulang dari rumah sakit karena serangan stroke ke 4. Terkulai di tempat tidur,badannya amat kurus ,kering, lemah dan tidak bertenaga tapi masih dapat berkata kata ,bahkan tertawa saat kami bergurau dengannya. Makin memprihatinkan  saja. Kami sempat tidak tahan melihatnya, yang kami lakukan cuma merapatkan jemari dalam untaian doa mohon Tuhan memberi kekuatan dan kesabaran serta sukacita bertahan dalam pengharapan karena penyakitnya.

Dalam kesempatan lain tiba tiba saja ada dorongan kuat aku  ingin kerumahnya, dengan terlebih dulu membeli jus jeruk.
Nampak senyap  rumahnya dan digembok dengan rantai  dari luar.
“Apakah ia masuk rumah sakit lagi?”,pikirku menebak nebak.
Kebetulan ada seorang wanita yang sedang berdiri dekat rumahnya sedang berbincang dengan seorang pria temannya  aku bertanya :
“Bu, tante ini di rumah enggak, koq sepi dan rumahnya terkunci?”.
”Oh, Ibu,Tante uda meninggal sebulan yang lalu”,katanya. Hah……………………………………..!!!!!!!!!!!!!!!!
Lemas sekali aku ,setelah mendengar kabar itu.Tak ada yang aku bisa tanyai lebih lanjut,karena wanita itu tidak tahu banyak.
Kembali ke mobil,aku tidak segera menyalakan mesin dan pulang ke rumah,namun terhenyak dan mematung di dalam mobil sambil memegangi  plastik berisi jus jeruk. Oh my God! Aku kecolongan.

 Dia telah pergi menghadap  Sang Khalik, sebelum sempat melihatnya sembuh. Anaknya juga tidak memberitahuku, jadi aku benar benar tidak tahu. Kalau pun di beritakan di koran lokal aku juga sudah tidak berlangganan.
Aku tidak sempat berada didekatnya pada detik detik helaan napasnya. Namun aku bersyukur aku telah meneteskan embun kasih dalam kerontangnya sanubari  sekian tahun berbagi waktu,berkisah cerita ,berderai tawa,merapatkan rasa paling tidak dia sudah merasakan kesejukan batin dari air kasih Tuhan sebelum dia berpulang.Dia memang tidak sembuh secara fisik, tapi aku yakin batinnya berangsur sembuh.

Manisnya saat aku dapat berbagi dengannya  makin menguak  misteri suatu pemberian. Bahwa dengan memberi kita menerima. Memberi  dengan waktu,perhatian,semangat,kepedulian  dan kasih dan aku menerima apa yang tak terlihat yaitu damai,sukacita,sejahtera dan rahmatNya serta pembelajaran bagaimana  meneteskan berkat yang telah kuterima menjadi titik titik embun yang wangi membasahi bumi  sanubari sanubari. Selamat jalan Tante!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar