![]() |
| embun pagi |
Kami sering terlibat perbincangan umum seputar lingkungan,pekerjaan dan rumah tangga hingga masalah rambut.Dia sempat mengagumi rambutku juga. Beliau senang mengajakku ngobrol kesana kemari, aku juga senang diajak ngobrol sampai sampai sering kebablasan sudah harus pulang untuk mengajar.
Sejak aku tidak berlangganan koran,aku malah jarang kontak apalagi bersua,hanya sewaktu waktu bila aku membutuhkan majalah atau koran aku menelponnya.
Setelah sekian lama aku menghilang suatu saat dia kuhubungi lagi lewat telpon berkenaan dengan kepentingan menitipkan brosur bisnisku yang dimasukkan kedalam lembaran koran atau majalah sebagai sisipan yang diantar ke pelanggan ,dia mengeluh mengidap penyakit stroke akut. Aku sempat terperanjat mendengar kabar itu karena selama ini dia baik baik saja.
”Saya sudah tidak seperti dulu,saya sudah sakit sakitan”,keluhnya dengan nada suara melemah.
Mendengar hal ini aku iba.Aku sempat membayangkan siapa yang urus dia dengan baik,karena kedua anak laki lakinya sibuk dengan urusan mereka, sehingga tidak bisa diandalkan perhatian ke ibunya.
Dia minta agar aku mampir kerumahnya. Mulailah aku rutin menyempatkan diri bertandang kesana. Tak jarang aku membawakannya lemper, kue lapis atau sayur lodeh kesukaannya atau apa saja sekedar menyenangkan dia. Namun selalu saja setelahnya dia pasti suruhan anaknya mengirimkan sesuatu ke rumahku sebagai balasan.
Dalam suatu kunjungan kami berbincang banyak hal, dia lemah tak bersemangat, nampak menderita sekali. Sambil bercerita selalu ia mengucapkan sesal ,mengapa anaknya 2 orang laki laki semua.
“Enak ya bisa punya anak perempuan”,katanya tiba tiba.
”Oh, ya enggaklah Tante,sama aja,semua punya peran sendiri sendiri.Semua punya bagiannya sendiri Tante.Jangan berkata begitu,mengucap syukur atas apa yang Tuhan telah berikan”,lanjutku.
“Tante lihat kamu selalu gembira,sehat dan bersemangat,katanya lagi ”.
”Oh ya?,Tante juga bisa,kalau Tante mau,cobalah menerima apa yang ada”,sahutku menghiburnya
Saat aku dirumahnya selalu ditahan untuk lebih lama bersama dengannya. Aku bisa mengerti namun aku selalu mencari alasan untuk dapat meninggalkannya lebih cepat, karena aku merasa cukup waktu aku mendampinginya kira kira 1 jam. Dengan janji akan datang lagi lain waktu, dia ikhlas melepasku pergi.
Kunjungan demi kunjungan kulakukan dengan rutin.Dan aku menyaksikan secercah kebahagiaan dari raut wajahnya, terlihat dari sunggingan senyumnya berkali kali matanya berpendar saat berbincang ,seolah muatan hidupnya teringankan sejenak. Aku tak tahu pasti apa yang dia pendam.Yah mungkin .beban penyakit, beban finansial karena penyakitnya yang memaksanya merogoh kocek yang tak terhingga , beban anak pertamanya yang terganggu mentalnya dan beban tidak punya anak perempuan. Dia sangat menderita dengan stroke yang sudah bertahun tahun dia idap,karena itu dia tidak dapat melangkahkan kaki ,hanya duduk manis dan menggerakkan tangan kanannya saja untuk meraih gagang telpon. Praktis hidupnya hanya seputar rumah,gereja,dokter,rumah sakit dan tidak bisa beraktifitas lain kalaupun ia harus berpindah tempat ia harus dipapah atau dibopong. Hal ini sudah cukup membuatnya merepotkan orang lain,lebih lebih ditambah penyesalan terhadap anak anaknya yang dianggap kurang mengasihinya rasanya berat sekali. Serangan stroke berkali kali yang membuatnya harus mondok di rumah sakit tentunya menguras biaya yang tidak sedikit,sementara mata pencahariannya hanyalah agen koran yang tidak terlalu besar. Usaha dikelola anaknya yang kedua,sedangkan anaknya yang pertama tidak bekerja karena kondisi mentalnya.
.Dia juga menganggap familinya tidak cukup peduli terhadapnya,walaupun menurut ceritanya ada juga yang menyokong pengobatannya.Sungguh kasihan!
Hatiku berbunga setiap pulang dari rumahnya ,karena aku dapat membahagiakannya walaupun tidak sepenuhnya.
Terakhir dalam kunjunganku kerumahnya dengan seorang hamba Tuhan, keadaannya tambah parah, baru pulang dari rumah sakit karena serangan stroke ke 4. Terkulai di tempat tidur,badannya amat kurus ,kering, lemah dan tidak bertenaga tapi masih dapat berkata kata ,bahkan tertawa saat kami bergurau dengannya. Makin memprihatinkan saja. Kami sempat tidak tahan melihatnya, yang kami lakukan cuma merapatkan jemari dalam untaian doa mohon Tuhan memberi kekuatan dan kesabaran serta sukacita bertahan dalam pengharapan karena penyakitnya.
Dalam kesempatan lain tiba tiba saja ada dorongan kuat aku ingin kerumahnya, dengan terlebih dulu membeli jus jeruk.
Nampak senyap rumahnya dan digembok dengan rantai dari luar.
“Apakah ia masuk rumah sakit lagi?”,pikirku menebak nebak.
Kebetulan ada seorang wanita yang sedang berdiri dekat rumahnya sedang berbincang dengan seorang pria temannya aku bertanya :
“Bu, tante ini di rumah enggak, koq sepi dan rumahnya terkunci?”.
”Oh, Ibu,Tante uda meninggal sebulan yang lalu”,katanya. Hah……………………………………..!!!!!!!!!!!!!!!!
Lemas sekali aku ,setelah mendengar kabar itu.Tak ada yang aku bisa tanyai lebih lanjut,karena wanita itu tidak tahu banyak.
Kembali ke mobil,aku tidak segera menyalakan mesin dan pulang ke rumah,namun terhenyak dan mematung di dalam mobil sambil memegangi plastik berisi jus jeruk. Oh my God! Aku kecolongan.
Dia telah pergi menghadap Sang Khalik, sebelum sempat melihatnya sembuh. Anaknya juga tidak memberitahuku, jadi aku benar benar tidak tahu. Kalau pun di beritakan di koran lokal aku juga sudah tidak berlangganan.
Aku tidak sempat berada didekatnya pada detik detik helaan napasnya. Namun aku bersyukur aku telah meneteskan embun kasih dalam kerontangnya sanubari sekian tahun berbagi waktu,berkisah cerita ,berderai tawa,merapatkan rasa paling tidak dia sudah merasakan kesejukan batin dari air kasih Tuhan sebelum dia berpulang.Dia memang tidak sembuh secara fisik, tapi aku yakin batinnya berangsur sembuh.
Manisnya saat aku dapat berbagi dengannya makin menguak misteri suatu pemberian. Bahwa dengan memberi kita menerima. Memberi dengan waktu,perhatian,semangat,kepedulian dan kasih dan aku menerima apa yang tak terlihat yaitu damai,sukacita,sejahtera dan rahmatNya serta pembelajaran bagaimana meneteskan berkat yang telah kuterima menjadi titik titik embun yang wangi membasahi bumi sanubari sanubari. Selamat jalan Tante!.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar