Kisah Nyata
(Teng ..teng ...teng ...aku tersentak kaget mendengar lonceng jam diatas sudah menunjukkan pukul 15.00 "Ah,begitu cepatnya waktu berlalu" ,pikirku sambil beranjak dari tempat duduk.
Kuayunkan kakiku masuk ke dalam sebuah ruangan tempat aku mengajar bahasa Inggris yang dahulunya adalah sebuah garasi.
Ruangan ini selalu membuatku tersenyum, kubayangkan saat saat mengubah garasi menjadi ruangan kelas yang sudah tertata dengan meja dan kursi yang berderet rapi.
Begitu juga lemari dan rak buku,lukisan,jam dinding serta meja besar yang termuati tumpukan buku untuk mengajar.
Tiba tiba aku mendengar suara pintu terbuka,dan disana berdiri Ade, gadis berusia 13 tahun,salah satu muridku.
"Duduklah dulu Ade",kataku kepadanya.
Jam menunjukkan pukul 15.30.
“Iya Miss,” sahutnya perlahan. Raut wajahnya tidak seperti biasanya, begitu pucat dan galau.
“ Please do page 85”, aku memintanya mengerjakan soal pada halaman itu. Waktu itu belum ada murid lain yang datang, biasa yang lain biasa terlambat..Tidak segera dilakukan apa yang aku perintahkan. Terdiam.Sunyi.
“Ah kenapa dia ?’, aku tetap belum bersuara menanyakan lebih lanjut mengapa ia tidak segera mengerjakan apa yang kuperintahkan. Dia lekat memandangku dengan mata yang berkacakaca dan wajah memelas Tiba tiba dia berkata………………………..
“ Bolehkah aku memelukmu, Miss?”
Aku tersentak sesaat sambil memandangnya.
“ Boleh boleh”, sahutku beruntun, tanpa banyak bertanya apa yang sebenarnya terjadi?, aku menyambut kedua tangannya.
Langsung ia menubrukku menyandarkan kepalanya dibahuku terisak isak menumpahkan segala perasaan galaunya, kesesakan dadanya. Aku bisa merasakan getaran hati yang nelangsa.
Beberapa menit berlalu, dia lalu melepaskan rangkulannya dariku.
Kusembunyikan gejolak hatiku sendiri,kuatir dia tahu bahwa aku terhanyut perasaanku olehnya.
Lalu …………………” Kenapa De?”
“Miss, mamaku jahat banget !”, katanya menahan ucapannya.
“ Oh ya?”, seruku terkejut. Dan berusaha menjadi penampung luapan jiwanya, agar dia bisa mengeluarkan uneg unegnya yang entah sudah berapa lama terpendam dalam sekali di lubuk hatinya. Dan sekarang meluap, meluber tak tertahankan.
“ Iya dia meninggalkan aku waktu aku masih kecil dan sekarang pergi entah kemana.”
Aku masih mendengarkan dia.
“ Sampai sekarang enggak tahu ada dimana mamaku.”
Sebenarnya aku tidak kaget mendengar curhatnya. karena memang aku sudah tahu riwayat dia dari Tantenya ,kakak mamanya yang kini merawat, menyekolahkan, mencukupkan semua kebutuhan dan sudah mengangkatnya sebagai anak. Ade sendiri memanggil papi dan mami kepada Tante dan Omnya.
“ Lalu papa kamu dimana?”, kataku menyelidik.
“ Papa sudah meninggal, Miss”
“ Bagaimana dengan Adi?”,tanyaku.
“Enggak tahu dimana sekarang”.
Yang dipanggil Adi adalah kakak laki lakinya yang dulu aku sempat mengajarinya juga. Seorang anak laki laki tampan tapi tidak jelas masa depannya, karena sulit diatur oleh Tante dan Omnya. Semaunya sendiri. Terombang ambing bagai kapal kehilangan kemudi. Kehilangan figur orang tua.
Aku teringat waktu itu Adi tidak mau sekolah. Aku tidak tahu sampai sekarangg apakah dia putus sekolah atau selesai kuliah.
Begitu miris nasib mereka berdua.
“Yah, Ade kamu harus bersyukur ada ‘mami dan “papi” yang masih menaruh kasih kepada kamu, mereka sudah bersedia menggangapmu anak sendiri. Mereka sudah memberikan yang terbaik buatmu.”, kataku menenteramkan.
“ Iya sih, tapi aku kan kangen banget ama mamaku sendiri”, dia terbata bata.
“ Iyalah Miss juga tahu, pasti setiap anak kangen sama mamanya. Pasti juga mamamu sekarang kangen sama kamu”
Aku tidak bisa berkomentar banyak, mencoba menaruh dalam hati apa yang dia rasakan. Begitu perih ! Tapi tentunya perasaanku tidak sama , karena aku tidak mengalami seperti yang dia alami.
Aku masih berusaha keras tapi perlahan membawa dia kepada suatu pengertian. Dia sudah bukan anak kecil lagi, sedapat dapatnya aku mulai mengajarkan padanya mengalami sesuatu dengan realistis.
“ Mulai sekarang coba lihat apa yang ada pada kamu, itu karunia Tuhan yang luar biasa. Kamu sudah besar dan cantik,kamu pandai “, hiburku terus.
Dengan serius dia mendengarkan.
“ Kalau kamu pengin dipeluk, bilang aja ya, tidak usah sungkan, lanjutku.
“ Iya, makasih, Miss, sahutnya. Reda…..lega……
Dalam hatiku aku memberontak. Aku seperti tidak bisa menerima keadaannya. Bermunculan pertanyaan pertanyaan di kepalaku.Apa salah Ade dan Adi, kakaknya? “Mengapa tega nian mamanya? Tidakkah dia kangen pada anak anak yang dilahirkan dari rahimya?
Masih tersisa pertanyaan menjejali benakku. Tanpa jawaban.
Mama Ade meninggalkan Ade dan Adi bukan tanpa alasan. Pasti ada alasan yang aku tidak pernah tahu. Kalau aku sudah melakukan tugasku sebagai ibu bagi ke dua anakku yang telah beranjak dewasa.Mencintai mereka lebih dari diriku sendiri. Apa salahnya jika aku membagikan cinta kasihku kepada Ade yang sewaktu waktu akan membutuhkan kenyamanan di pelukanku. Disentuh. Didekap. Hangat..Aku benar benar merasa bahagia saat aku memeluk dia tadi, sesaat aku dapat menjadi kepingan hidupnya yang hilang sebagian yang tak dapat dia temukan. Seperti satu bagian puzzle yang lepas dari papannya yang tak dapat ditemukan pasangan aslinya, tetap tidak pas. Tapi mau apa lagi.? Terima kasih Tuhan aku boleh menjadi pengganti bagian puzzle yang hilang walaupun hanya sementara, tapi dia tetap seorang Ade yang Engkau ciptakan dalam rencanaMu. Jadi sangat tidak etis mencari “kambing hitam” siapa yang salah dan siapa yang benar, karena mencari kehendakMu lebih berharga daripada mencari bagian puzzle yang hilang entah kemana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar