![]() |
| Penjual Es Potong di Orchard Road |
| Es Potong dalam dua rasa |
Orchard Road adalah pusat perbelanjaan, namun di sepanjang jalan bisa ditemukan kakek-kakek tua yang menjajakan es krim. Orang cuma menyebut es krim potong. Soal merk tak jelas.Ada yang menyebut Es krim potong di Orchard Road , es krim potong Singapura atau Ice cream sandwich.
Apa istimewanya es krim potong ini ? Bukankah es adalah sesuatu yang dingin yang beraroma dan berasa manis dilidah, sekejap hilang bertepatan saat menyesapnya.
Ya, karena es krim ini cukup unik dan terbilang murah. Berbentuk balok besar, dan apabila ada yang berniat membeli, maka penjual akan memotong balok itu sekitar 2-2,5 cm.
Kebersihannya ? Jangan kuatir. Es krim ini baru dikeluarkan dari pendingin, itu pun masih dalam keadaan terbungkus. Lalu dipotong sesuai potongan dari pabrik dikelupas kertasnya dan dijepit dengan roti tawar warna warni atau wafel sesuai permintaan pembeli. Di balut plastik agar tidak kotor saat dipegang.
Meski sederhana makanan ini cukup populer di kalangan orang Indonesia yang sudah pernah jalan jalan di Orchard road.
Pastinya masuk ke dalam pusat perbelanjaan sambil membawa eskrim adalah larangan keras. Dianjurkan makan saja es krim sambil jalan sebelum belanja.
Beragam pilihan rasa seperti chocolate, vanilla, durian, raspberry, strawberry membuat lidah tak bosan. Tertarik mencoba? Beberapa mall di Indonesia menjual es krim dengan nama Es Potong Singapura dengan berbagai merek
Pantas saja putraku bertanya padaku : “Ma di Singapura beli es potong ya?”
“Ya kenapa? Enak kok apalagi makannya sambil jalan”, kataku pamer.
“ Ala…..ma….ma…di Jakarta aja ada kenapa beli disana”, sahutnya
“Bukan bukan karena itu tapi asyiknya jalan di Orchard road makan es potong , itu menyenangkan “,kilahku.
Menyaksikan kerumunan orang di depan seorang tua penjual es menarik perhatianku. Kami, aku putriku dan seorang teman cowoknya akhirnya tergiur ingin membelinya. Berdiri menunggu giliran dilayani kami mengobrol kesana kemari . Pandanganku tertuju pada kertas yang menempel di bodi gerobak. “Please queue “ Harap Antri. Jika dipasang “notice” ini pastinya jualan ini sangat laris. Terus ada lagi di bagian lain : “Do not accept 10 cent “. Tidak menerima uang recehan 10 sen. Barangkali ia tidak mau repot menghitung receh , buang waktu jika pelanggan banyak.
Begitu banyak yang antri namun ia tidak grogi atau gugup tetap tenang. Kagum akan semangatnya untuk tetap bekerja dengan ketekunan, ketelatenan, kesabaran,kesigapan dan kesyukuran. Semangat yang ditunjukkan dengan kegesitannya dan kecekatannya. Penampilan sederhana dan bersahaja jauh dari kesan mewah kontras dengan kemegahan, kemewahan dan kegagahan gedung dan bangunan bertingkat yang melatar belakangi tempat dia memangkal gerobaknya.
Bukankah seorang berusia diatas 60 tahun sudah seharusnya berada di rumah bersama keluarganya menikmati hari harinya? Berkebun, membaca atau bercengkerama dengan cucu cucunya atau bermain dengan binatang peliharaannya? Nobody knows. That’s life. Life must go on.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar